mobilinanews (Subang) - PT BYD Motor Indonesia akhirnya meresmikan pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9), sebagai bentuk komitmen mereka kepada kemajuan industri otomotif di Tanah Air.
Vice President of BYD Co Ltd sekaligus General Manager of BYD Asia Pacific Auto Sales Division Liu Xueliang berbangga bahwa setelah melalui perjalanan yang cukup panjang mereka akhirnya memiliki pabrik sendiri untuk memproduksi mobil-mobil BYD di Indonesia.
“Kehadiran pabrik baru BYD di Indonesia merupakan wujud visi kami untuk menghadirkan mobil yang bervariasi mulai dari kendaraan dengan teknologi berkelanjutan, yang akan menyentuh hingga keluarga terkecil di Indonesia,” kata Liu Xueliang saat persemian pabrik BYD di Subang, Jawa Barat.
Liu Xueliang mengungkapkan pabrik megah BYD yang berdiri di atas lahan seluas 126 hektare ini telah direncanakan sejak 2023 melalui persiapan yang panjang dan matang, hingga akhirnya di resmikan pada Setember 2026 ini.
“Tahun 2023, ketika saya datang ke Subang, di sini hanya ada lahan dan langit yang luas. Tapi hari ini, kita berhasil membuat pabrik di sini dan kita akan memproduksi mobil untuk dunia dari Subang,” ujar Liu bersemangat.
Asal tahu saja, pabrik BYD Subang akan memiliki kapasitas produksi mencapai 150.000 unit per tahun. Pabrik ini akan memproduksi mobil listrik Atto 1, mobil hybrid M6 DM, dan mobil mewah Denza.
Pembangunan pabrik BYD di Subang menelan investasi kurang lebih Rp16 triliun, dan akan menyerap sekitar 20 ribu tenaga kerja, bila mesin operasionalnya bekerja penuh. Saat ini, BYD telah melibatkan lebih dari 5.000 pekerja lokal untuk memproduksi mobil-mobil BYD.
Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita menyambut baik kehadiran pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, karena akan mendorong pertumbuhan industri otomotif, sekaligus membuka lapangan kerja untuk anak bangsa.
Agus Gumiwang menyebutkan bahwa pertumbuhan elektrifikasi di Indoensia cukup menjanjikan di pasar otomotif Tanah Air. Dan BYD memberikan kontribusi yang signifikan dalam pergerakan pasar elektrifikasi di Indonesia.
“Pada semester 1 tahun 2026, kendaraan EV mencatat penjualan 70 ribu unitdengan pangsa pasar sekitar 14 persen, sedangkan hybrid mencapai 40.400 unit dengan pangsa pasar 10 persen. Besarnya psar kendaraan elektrifikasi ini mencerminkan semakin kuatnya penerimaan konsumen terhadap teknologi kendaraan listrik dan teknologi kendaraan renda emisi,” beber Agus.
Agus sebagai perwakilan pemerintah terus mendorong agar pabrikan kendaraan tidak hanya berbisnis tetapi juga ikut membangun industri yang kuat di dalam negeri.
“Tidak hanya untuk emmbangun pasar kendaraan listrik, tetapi juga harus mampu memperkuat struktur industri dan kapasitas produksi di dalam negeri,” tukasnya.