motorinanews (Jakarta) – Naik motor untuk beraktivitas merupakan mode kebutuhan transportasi yang terpaksa. “Saat ini faktanya dapat dikatakan demikian. Seorang rekan saya contohnya, dia merupakan petinggi di perusahaan modal asing di kawasan TB Simatupang, namun sehari-hari ke kantor naik motor. Efisiensi waktu jadi dasar pertimbangan,” kata Paulus S Firmanto, pengamat perkembangan industri sepeda motor di Indonesia.
Alasan agak berbeda datang dari lapisan masyarakat kelas menengah, pilihan naik motor selain efisiensi waktu, juga karena hemat biaya perjalanan. “Terpaksa, mas bro. Naik motor jadi satu-satunya pilihan hemat waktu dan biaya. Coba di jalur dari rumah saya ke kantor dekat dekat dari jalur Commuter Line, saya kayaknya memilih naik kereta,” kata seorang rekan jurnalis yang berdomisili di bilangan Pondok Kelapa – Jakarta Timur dan berkantor di bilangan Patal Senayan – Jakarta Selatan.
Data dan Fakta Peralihan Mode Transportasi
Di sisi lain, seiring berkembangnya layanan transportasi yang lebih baik dan lebih murah, pilihan naik motor pun mulai ditinggalkan. “Proses shifting dari penggunaan sepeda motor sebenarnya sudah terjadi saat ini. Di tahun 2015 ini setahu saya kapasitas produksi sepeda motor di Indonesia sudah menembus angka 10 juta unit, sementara permintaan pasar justru turun. Sempat diprediksi bisa mencapai angka 6,9 juta unit, lalu direvisi 6,7 juta unit dan rasanya tetap sulit tercapai. Hingga 11 bulan di 2015 data angka penjualan sepeda motor baru tembus 6,3 juta unit,” imbuh Paulus.
Pernyataan di atas ada benarnya. Jika mengacu pada data PT KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ) yang mengoperasionalkan jasa kereta Commuter Line di wilayah Jabodetabek. Pada tahun 2015, pihak PT KCJ yang terus menambah jumlah armada keretanya. Pada September 2015 misalnya, pihak PT KCJ kembali telah mendatangkan 24 unit KRL dari Jepang serta menambah jumlah gerbong dari sebelumnya delapan atau 10 menjadi 12 gerbong.
Tantangan industri sepeda motor juga kini datang dari layanan ojek berbasis aplikasi di smartphone. Selain biaya transportasi yang murah seperti di Grab Bike, ada juga layanan kurir dan jasa belanja dari Go-Jek, serta layanan yang hanya mengakomodir penumpang perempuan dan pengemudinya juga perempuan di Lady-Jek.
Naik Motor Tidak Aman?
Berdasarkan data yang didapatkan dari Ditlantas Polda Metro Jaya pada November 2015, disebutkan jika Indonesia merupakan negara ke-5 menurut WHO dengan tingkat kecelakaan lalu lintas tertinggi, dan umumnya melibatkan pengguna sepeda motor.
Hal ini juga terindikasi dari jumlah penindakan yang diberikan. Dari Januari hingga Agustus 2015, angka penindankan kepada pengguna sepeda motor mencapai 476.937 kasus dari jumlah total 646.630 kasus.
Ada komentar lain, guys?