Industri Sepeda Motor Di Indonesia Bisa Terus Turun

Minggu, 20/12/2015 11:27 WIB
redaksi


Konsep sales & marketing dari industri sepeda motor di Indonesia dituntut lebih kreatif
Konsep sales & marketing dari industri sepeda motor di Indonesia dituntut lebih kreatif

motorinanews (Jakarta) – Hari Jumat malam (18/12), kantor redaksi motorinanews kedatangan seorang sahabat lama Paulus S Firmanto, mantan Direktur Divisi R2 Suzuki Indonesia dan General Manager Yamaha Indonesia.

Perbincangan santai pun berjalan layaknya diskusi warung kopi sesama teman. Meski demikian, ada beberapa poin penting menarik yang pantas disampaikan kembali dalam bentuk berita.

“Industri sepeda motor di Indonesia harus bisa lebih kreatif dan breakthrough dalam konsep pemasaran. Tidak bisa lagi hanya terpaku pada 3S (Sales, Service, Spare Part). Memahami kebutuhan transportasi seperti Go-Jek dan kawan-kawannya bisa menjadi salah satu contoh, mestinya ide model pemasaran demikian datang dari produsen,” kata Paulus.

Jika kreativitas sales & marketing tidak dilakukan, maka besar kemungkinan jumlah permintaan sepeda motor terus menurun di tanah air. “Tahun ini saja, prediksinya penjualan motor sudah beberapa kali terkoreksi. Jika di awal bisa mencapai 6,9 juta unit, lalu direvisi jadi 6,7 juta unit. Dan hingga 11 bulan penjualan baru sekitar 6,3 juta unit, sehingga tidak mencapai target lagi,” imbuh Paulus.

Ada beberapa hal menurut pria ramah ini yang dapat mengubah minat beli konsumen pada sepeda motor. Meski mengalami kenaikan dari segi pendapatan, belum tentu diiringi oleh minat beli. Ada kecenderungan, konsumen shifting atau beralih ke mode transportasi lain baik itu mobil, commuter line atau kendaraan umum berbasis aplikasi seperti Go-Jek dan kawan-kawannya.

“Biar bagaimana naik motor itu (umumnya) bukan pilihan, tapi karena faktor keterpaksaan. Isu naik motor tidak safety pun menjadi pertimbangan klasik,” terang Paulus.

Gambaran di atas menjadi tantangan para pelaku industri sepeda motor untuk dapat terus mengepakkan sayap bisnisnya. “Jika tidak, pasarnya akan semakin tergerus seperti di beberapa negara di kawasan Asia mulai dari Jepang, China bahkan negara tetangga seperti Thailand,” pungkas Paulus.

Tag

Terpopuler

Terkini