Ini Alasan Ojek Online Bisa Menjadi Mesin Pembunuh di Jalan Raya !

Selasa, 08/11/2016 12:27 WIB
redaksi


Seorang wanita pengguna ojek online menjadi korban kecelakaan di Pancoran
Seorang wanita pengguna ojek online menjadi korban kecelakaan di Pancoran

motorinanews (Jakarta) - Eksistensi transportasi online memang sedang diatas angin. Semua kalangan masyarakat mulai dari artis, pengusaha, karyawan dan profesi lainnya juga menggunakan jasa ojek online.

Berkat ojek online, banyak yang terbantu bahkan lebih efisien untuk mengantarkan barang dari titik asal sampai titik tujuan. Namun disisi lain, ojek online juga bisa menjadi mesin pembunuh di jalan raya.

Mengapa disebut demikian, karena hingga saat ini tingkat kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab kematian nomer tiga di Indonesia setelah serangan jantung dan stroke. Dikatakan juga sebagai mesin pembunuh karena memiliki alasan yaitu menurut data Korlantas Polri, setiap harinya rata-rata angka kecelakaan lalu lintas mencapai 70-80 kematian dan 60% disumbangkan dari pemotor.

Hal itulah yang membuat angka kematian akibat kecelakaan seperti mesin pembunuh. "Bahkan saking tingginya mirip dengan korban perang di Suriah. Ini sangat mengerikan jika terjadi setiap hari dan setiap tahunnya korban terus meningkat," kata Kasubbag Kamsel Korlantas Polri AKBP Hari Purwanto dikutip dari laman liputan6.

Kembali ke ojek online, dari beberapa tranportasi online yang sudah beredar di Indonesia, para drivernya sudah dibekali dengan pengetahuan safety riding atau tentang keselamatan berkendara. Entah itu berupa materi ataupun praktik.

Namun, walau sudah mendapatkan pengetahuan safety riding, masih banyak driver yang tidak mempraktikannya di jalan raya. Justru mereka seperti mengabaikan apa yang telah didapat dan sering melakukan pelanggaran lalu lintas. Jelas hal itu merugikan bagi pengguna jasa ojek online dan pengendara lain dijalan raya.

Alih-alih ingin sampai dengan cepat di tempat tujuan malah petaka yang didapat karena driver melanggar lalu lintas dan cara berkendara yang salah.

Melihat fenomena itu, Jusri Palubuhu, Chief Instructor Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) angkat bicara. "Harusnya mereka (para driver ojek online:red) bisa mengambil sikap yang baik ketika dijalan raya. Sudah diberikan materi safety riding secara gratis harusnya mereka beruntung. Karena pelatihan safety riding itu sangat mahal," ujarnya.

Senada dengan ucapan Korlantas Polri, pri yang gemar naik moge ini juga berucap ojek online bisa menjadi mesin pembunuh jika mereka selalu mengabaikan keselamatan berkendara.

"Jika hanya berkendara naik motor saja semua orang bisa melakukannya. Tapi apakah mereka tau cara berkendara dengan benar? situasi dijalan raya itu selalu berubah makanya diperlukan pengetahuan safety riding. namun semua itu tidak akan selaras jika masih ada pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pengojek online," terangnya.

"Semoga para ojek online atau pemotor lainnya bisa mengambil pelajaran apa yang terjadi di jalan raya. Jika sudah celaka barulah sadar. Sediakan payung sebelum hujan, pelajari safety riding jangan tunggu setelah kecelakaan," tambahnya. (Zhein)

Tag

Terpopuler

Terkini