mobilinanews – Biasanya Jorge Lorenzo jadi rider favorit di seri GP Qatar. Maklum, trek Losail memang cocok dengan riding style-nya, begitu pula karakter Yamaha yang 9 tahun ini digebernya.
Tapi, tidak untuk seri pembuka pada Minggu (26/3) malam nanti. Enam kali juara di Qatar tak membuat Lorenzo layak difavoritkan saat ini?
Pindah ke Ducati diakui Lorenzo membutuhkan waktu adaptasi yang lebih lama dari perkiraan. Desmosedici GP17 menurutnya sangat rumit karena begitu banyak peranti elektroniknya.
“Jauh lebih mudah mengendalikan M1 dibandingkan GP17, bahkan dengan Moto2 atau bahkan motor kelas 250cc,” tutur Lorenzo memuji Yamaha YZR-M1 yang telah memberinya tiga gelar juara dunia MotoGP dalam sembilan tahun.
Ia jelas sekali belum siap fight berebut kemenangan di GP Qatar maupun beberapa seri awal 2017. Jangankan melawan Yamaha dan Honda yang masih favorit 2017, menyaingi rekan setim (Andrea Dovisiozo) pun bakal ngos-ngosan.
“Sepanjang tes saya kalah dari Dovi. Di seri awal sepertinya ia juga akan lebih cepat. Maklum, ia sudah sangat terbiasa dengan Ducati,” kilahnya.
Dikontrak Ducati dengan banderol 14 juta Euro per tahun dan membuatnya termahal di MotoGP saat ini, Lorenzo yakin bangkit dan mampu bersaing di pertengahan musim. Pengembangan teknologi Ducati dan infrastrukturnya sangat mendukung.
“Terlebih lagi suasana dalam tim. Saya sangat nyaman dan merasa dihargai. Tidak seperti saat di Yamaha, saya diperlakukan seperti buruh,” ucap rider Spanyol itu mulai menjelekkan bekas timnya yang dulu juga ia puja-puji. (andro)