mobilinanews (Jakarta) - Sebagai navigator reli, nama Jeffrey Joko Prakoso (JP) sudah melambung pada tahun 1990-an. Beberapa pereli papan atas saat itu, pernah bersamanya, dari Deddy Madradi, Yus Martak, Andy Jachmoon, Pratikto Singgih, Tony Hardianto, Ricardo Gelael hingga Hutomo MP.
Pada Kejurnas Reli 1993 di Palembang, dia pernah menolak permintaan almarhum Tony Hardianto untuk menjadi navigatornya.
“Sebenarnya bukan menolak. Tapi, saat itu kebetulan saya dipercaya menjadi COC (pimpinan perlombaan) reli di Palembang,” buka Jeffrey kepada mobilinanews.
Namun Jeffrey tidak enak menolak ajakan Tony. Toh cara yang dilakukan secara halus, dengan mencoba memberi solusi. Yakni dia meminta Hervian Soejono yang dianggap potensial untuk menemani saat melakukan survei.
Siapkan WRC melalui Yayasan Reli Indonesia
Dan, saatnya harus mendaftar ke panitia, Jeffrey meyakinkan Tony bahwa Ian –panggilan Hervian—adalah alternatif terbaik dari yang ada setelah mencoba beberapa nama yang lain.
Benar juga, akhirnya, pasangan Tony dan Ian memenangi Kejurnas Reli yang dilangsungkan di perkebunan PT. Nugra Santana tersebut. Bahkan berhasil menjadi juara nasional. Dan reli yang dipimpin Jeffrey saat itu berlangsung sukses dan lancar.
Kenapa pereli sekelas Tony Hardianto harus mencari navigator lagi? Pasalnya, saat itu, navigator utamanya, Anthony Sarwono lagi sakit.
Selain itu, Jeffrey boleh dibilang sebagai kreator pacenote Indonesia. Melalui Adiguna Sutowo, tokoh reli senior dan mantan Ketua IMI DKI, yang baru pulang dari Skotlandia dan Inggris belajar tentang pacenote, Jeffrey kemudian menterjemahkan lebih sederhana dan menyebarkan kepada komunitas reli.
GORO Rally Team sempat disiapkan ke Group N WRC
Saat itu, Adiguna belajar soal pacenote dari Jimmy McRae (ayah pereli WRC Alm. Collin McRae). Jeffrey kemudian memperbanyak soal pacenote itu yang mendapat sambutan antusias sebagai panduan untuk para navigator reli tersebut.
“Sebelum itu, kita hanya mengenal tulip berupa petunjuk dan arah panah. Nah, pacenote menjadi hal baru yang diajarkan kepada saya dari mas Guna, sebagai transfer ilmu untuk dunia reli Indonesia,” sebut Jeffrey.
Pada saat Kejurnas Reli di Medan, Jeffrey memperbanyak panduan pace note untuk navigator yang baru dan lebih mudah dipahami tersebut dengan cara memfoto copinya.
“Foto copian pacenote itu diserbu teman-teman navigator, pereli dan pelaku reli lainnya. Nggak gratis lho. Kalau nggak salah, satu bundel foto copy saya jual Rp 100 ribu. Soal dijual itu pun saya laporkan sebelumnya ke mas Guna hehe,” ungkapnya.
Bersama Stig Blomqvist dan Tony Sircombe di Team Jagonya Ayam.
Kepiawaian Jeffrey manajemen sebuah event reli dan mengelola tim, membuat ia bersama tokoh lain seperti Indrajit Sardjono, Alm. Indra Simatupang dan John Lubis cs dipercaya menggulirkan Yayasan Reli Indonesia.
Tujuannya, menyiapkan World Rally Championship (WRC) di Sumatera Utara.WRC akhirnya terselenggara di Sumatera Utara pada 1996 dan 1997.
Tugas Jeffrey belum selesai. Pasalnya, setelah itu ia dipercaya membangun dan menjalankan GORO Rally Team yang disiapkan mengikuti kejuaraan dunia Group N.
“Saat itu, kita pesan 8 unit mobil Mitsubishi Evo 4, menggantikan mobil Subaru Impreza Group A yang saat itu banyak dipakai pereli kita,” ungkap Jeffrey.
Empat pereli disiapkan yakni Hutomo MP, Ricardo Gelael, Tony Hardianto serta Okky Harwanto.
Namun singkat cerita, program go to WRC Group N itu nggak bisa terlaksana dengan baik karena sesuatu hal. Dan, kemudian dialihkan untuk mengikuti reli di Kejurnas di Indonesia. (budsan/habis)