MotoGP 2024 Australia: Adu Mental Berebut P1, Benarkah Jorge Martin Lebih Tangguh dari Francesco Bagnaia?

Rabu, 16/10/2024 16:33 WIB | Rulin purba
Francesco Bagnai versus Jorge Martin, saatnya mental jadi penentu. (Foto: motogp)
Francesco Bagnai versus Jorge Martin, saatnya mental jadi penentu. (Foto: motogp)

mobilinanews (Australia) - Pertempuran berebut gelar juara MotoGP 2024 tinggal 4 putaran. Jorge Martin masih unggul 10 poin atas juara dunia bertahan Francesco Bagnaia. Pembalap legendaris Giacomo Agostini menyebut 2 faktor terpenting sebagai penentunya.

Semua race sisa tahun ini krusial. Kesalahan kecil seorang pembalap bisa menjadi keuntungan besar bagi rivalnya.

Dari sisi teknis dan skill, Martin dan Bagnaia setara sepanjang musim ini. Mereka berbekal motor dengan spek yang sama, Ducati Desmosedici GP24. Yang membuat perbedaan poin mereka di klasemen hanyalah kesalahan sendiri yang berbuah kecelakaan.

Dan, tentunya juga nasib karena juga tergantung dari pilihan ban dan perilaku pembalap lainnya yang bikin poin melayang seperti dialami Bagnaia usai diseruduk Alex Marquez di GP Aragon atau serangan Enea Bastianini di lap terakhir GP Misano 2 yang membuat Martin gagal menjadi juara meski hanya kehilangan 5 poin.

Karena itu, kata Agostini (82 tahun), hanya dua hal penting yang bisa jadi penentu apakah Bagnaia meraih hattrick gelar tahun ini atau Martin sukses membawa Pramac sebagai tim satelit pertama yang mampu lahirkan juara dunia di kelas primer.

"Siapa yang lebih tenang dan lebih fokus, itu yang akan menentukan," kata pemilik 25 gelar juara dunia itu, 8 di kelas GP500 dan 7 di kelas GP350.

Omongan Giacomo diamini oleh Martin. Tahun lalu  katanya, ia kalah mental dengan Bagnaia dan itulah sebab utama kegagalannya meraih gelar dalam race akhir di GP Valencia.

"Musim lalu mentalitas saya buruk. Tak mampu melawan pressure.  Terlalu banyak memikirkan lawan dan suka membayangkan apa yang akan terjadi. Tak bisa dan tak tahu cara mengubahnya".

"Saya hanya terobsesi untuk menang, menang, dan menang. Kini saya sadari itu bukan cara yang tepat" kisahnya dalam sebuah wawancara panjang dengan crash.net.

Kegagalan itu sempat membuatnya putus asa dan malas kembali ke MotoGP karena tak lagi percaya diri dengan kecepatannya. Tapi, saat menjajal motor baru pada tes awal musim, ia langsung merasa masih punya speed dan mendorongnya untuk kembali mencoba.

"Saya juga belajar dari kesalahan tahun lalu. Mengubah mentalitas berpikir dan bertindak adalah sisi yang paling banyak berpengaruh tahun ini."

"Terus belajar dari semua situasi dan berusaha keras untuk fokus pada diri sendiri. Tak lagi hanya ngotot untuk menang. Sudah bisa menerima kekalahan. Itu justru membuat hati nyaman dan nyenyak tidur."

Martin sadar tekanan mental tetap ada dan bisa jadi semakin besar dalam 4 race sisa yang diawali dari GP Australia akhir pekan ini. Tapi, ia akui siap melakoninya dan sudah tahu cara mengatasinya.

"Tekanan mental seperti itu normal meski tak semua memilikinya. Kami bertarung di baris depan, untuk memperebutkan satu hal yang sangat besar."

"Ketika Anda di belakang, itu lebih mudah karena hanya memikirkan serang dan serang. Tapi, saat di depan, Anda harus memikirkan beberapa hal."

Karena itu untuk saat ini dan ke depan, Martin mengubah strategi balapnya. Kalaupun ia berada di baris depan, ia selalu berpikir berada di belakang dengan dengan prinsip menyerang itu tadi, bukan bertahan. Ya seperti di sepakbola,  bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang.

Dan, ia juga tak lagi terbebani tekanan harus menjadi juara dunia seperti yang dirasa tahun lalu.

"Menjadi juara dunia adalah impian. Saya berikan 100% kemampuan untuk itu. Peluangnya 50-50. Saya akan berjuang sampai titik terakhir untuk dapatkan plat #1 (nomor milik juara dunia). Kalau gagal saya bisa saya terima dan coba lagi tahun berikutnya," tutupnya dengan bijak dan bikin enteng pikiran.

Bagaimana dengan Bagnaia?

Ia belum curhat soal itu. Tapi, salah satu kekuatan rider utama Ducati itu selama ini adalah kepribadiannya yang tenang. Sedemikian tenangnya  Bagnaia justru ingin bertarung dengan Martin hingga seri pamungkas GP Valencia dengan skor 0-0.

"Saya ingin memulai race Valencia dengan jumlah poin yang sama dengan Jorge. Gelar benar-benar ditentukan oleh siapa yang terdepan di situ. Itu bakal seru dan bagus buat fans," kata Bagnaia.

Wow! (rn)