mobilinanews (Andora) - Musim ini Fabio Quartararo membawa Yamaha YZR-M1 empat kali meraih pole position. Tapi, tak sekali pun menghasilkan gelar pemenang.
Terakhir di GP Rep.Ceko, juara dunia 2021 itu start front row (P3) tetapi hanya sanggup meraih finish di posisi ke-11. Problem yang ia hadapi selalu sama. Tangguh di single lap, tapi susah di balapan panjang.
Ia tak sanggup menyalip lawan saat berkelompok. Keok dengan para pembalap Ducati, Aprilia dan KTM. Beda dengan single lap saat bergerak sendirian.
Solusinya tak jua ketemu meski sudah berulangkali coba dibedah para insinyur Yamaha. Gerah dan gelisah dengan problem yang itu ke itu saja, akhirnya Quartararo mengambil kesimpulan sendiri.
Biang kerok masalahnya, menurutnya adalah power motor. Itu berarti mesin.
Saat ini Yamaha menggendong mesin 4 silinder segaris dan satu-satunya yang masih bertahan dengan spek tersebut sementara semua pabrikan di MotoGP saat ini sudah beralih ke mesin V4.
"Saya bukan insinyur mesin dan belum pernah mencoba mesin V4. Saya tak yakin, tapi menurut saya, mesin adalah kelemahan kami. Ducati, Aprilia dan KTM pakai V4 dan tapi punya sasis berbeda satu sama lain. Kami punya sasis juga berbeda. Karena itu saya merasa yang jadi masalah adalah mesin," tegasnya.
"Saat melaju sendirian tak ada masalah. Saya menemukan ritme, bisa mengembangkan kecepatan mendekati batas maksimal. Tapi, saat berkelompok dalam race semuanya melemah - power, aero, ban belakang - yang lantas mempengaruhi performa keseluruhan," imbuhnya.
Karena itu Quartararo mendesak Yamaha untuk meninjau ulang proyek mesin V4 yang musim ini tengah digodok Yamaha. Mesin baru itu sudah dicoba para test rider macam Augusto Fernandez dan pembalap veteran Andrea Dovizioso. Keduanya menilai V4 positif.
Tadinya V4 itu direncanakan Yamaha tampil pada race resmi lewat jalur wild card. Tapi, kebijakan itu berubah dan V4 dipersiapkan ke musim 2026 sembari terus mengembangkannya di sisa musim tahun ini.
Itu pun dengan catatan jika mesin V4 itu benar-benar lebih kencang dari mesin saat ini. Tes mencari perbandingan ini bisa jadi akan berlangsung pada tes resmi usai GP Valencia mendatang atau setelah kompetisi regular selesai. Waktu yang tampaknya terlalu lama oleh Quartararo.
Dengan mempercepat uji coba V4 seperti semula, ia berharap pergantian ke mesin V4 tak lagi sekadar uji coba tetapi sudah fix lebih kompetitif (dibandingkan mesin sekarang) untuk digunakan pada musim 2026.
Quartararo dikontrak Yamaha hingga akhir 2026. Tapi, ia ingin untuk musim 2026 itu sudah kompetitif di baris depan. Tak membuang masa usia 'emasnya' dengan membuang satu musim kompetisi dengan kesibukan pengembangan motor lagi.
Ia sadar prestasi tak bisa diraih dengan waktu singkat . Tapi, saat sama usia si pembalap terus berjalan dan mempengaruhi performa. Dan, untuk musim tahun depan yang dibutuhkan Quartararo adalah motor yang membawanya ke persaingan tingkat atas. Bukan lagi sibuk dengan program pengembangan motor. Wajar jika ia gelisah kalau itu yang terjadi di tahun terakhir kontraknya bersama Yamaha.
Cara tercepat untuk itu adalah mempercepat proyek V4 dan dalam sisa kompetisi tahun ini bisa memastikan mesin itu lebih andal dari mesin tahun ini.
Apakah Yamaha akan turuti desakan itu, tinggal tunggu waktu jawaban para petinggi pabrikan Jepang ini. (r)