MotoGP 2025 Jepang: Mari Berhitung, Bagaimana Cara Marc Marquez Mengunci Gelar Dunia di Motegi

Selasa, 23/09/2025 22:34 WIB | Rulin purba
Marc Marquez (Spanyol/Ducati). (Foto: ducati)
Marc Marquez (Spanyol/Ducati). (Foto: ducati)

mobilinanews (Jepang) - Hanya perlu mencuri tiga poin dari Alex Marquez sang adinda, Marc Marquez akan mengunci gelar juara dunia MotoGP di GP Jepang,  Sirkuit Motegi, akhir pekan ini. Gampang?

Ya, gampang, jika menilik track record keduanya musim ini. Marc di skuad pabrikan Ducati sangat dominan dibandingkan Alex di tim satelit Gresini Ducati.

Juga mudah jika ditilik dari reputasi kakak beradik itu di Motegi. Dalam 10 penampilan di GP Jepang, Marc finish dengan 9 kali manggung di podium. Menang 3 kali, P2 dan P3 juga masing-masing tiga kali. Hanya sekali finish P4.

Sebaliknya dengan Alex. Musim 2022 ia hanya finish P13. Musim 2023 gagal tampil lantaran cidera.  Dan, tahun lalu gagal finish usai kecelakaan. Tapi, di kelas nyamuk, ia menang 2 kali di Moto3 dan sekali di Moto2.

Dengan fakta itu, relatif mudah buat Marc untuk dapat poin 3 dari adiknya. Jika Marc memenangkan sesi sprint pada Sabtu nanti dan Alex finish P2 seperti sudah terjadi 10 ki musim ini, maka Marc sudah dapatkan tambahan 3 poin itu dan hanya perlu finish di depan Alex pada sesi balap grand prix pada Minggu.

Jika Alex memenangkan sesi sprint dan Marc finish P2 seperti terjadi di GP Inggris maka Marc butuh keunggulan 6 poin di raceday Minggu. So, jika Marc juara dan Alex finish P2 maka gelar belum terkunci di Motegi. Marc baru mengumpulkan keunggulan poin 184, padahal ia butuh keunggulan 185 poin usai GP Jepang agar tak lagi terkejar hingga seri pamungkas di GP Valencia.

Intinya, Marc harus unggul minimal 3 poin agar bisa berselebrasi sebagai juara dunia 2025 di Motegi, saat seri kejuaraan tersisa 5 putaran.

Jika Alex yang finish di depan Marc maka matchpoint berikutnya terjadi di GP Indonesia, Mandalika, awal Oktober.

Semua paparan di atas adalah teori secara matematika semata dan hitungannya logis berdasarkan data dan fakta.

Tetapi MotoGP tak selalu soal data dan matematika. Faktor keberuntungan juga sangat penting dan untuk urusan yang satu ini tak ada orang yang tahu kapan dan seperti apa datangnya.

Marc sendiri sering mengatakan ia juga adalah manusia biasa. Manusia yang tak selalu bernasib baik dan faktanya acap pula alami nasib buruk, terlebih masa-masa akhirnya bersama Honda.

"Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi kemudian. Saya juga manusia biasa, bisa bernasib buruk kapan saja. Entah di balapan berikutnya atau yang lain. Yang pasti saya selalu berjuang dan kerja keras untuk meraih kemenangan."

Karena prinsip itulah Marc sejauh ini tidak gembar-gembor untuk cetak gelar perdananya bersama Ducati di Motegi, gelar ke-7 di kelas primer sekaligus menyamakan rekor milik Valentino Rossi sang legenda.

Meski begitu ya sangat tak salah jika mengatakan peluang Marquez mengunci gelar di Motegi sangat besar.  Hanya sebuah petaka yang bisa menggagalkannya. (r)