mobilinanews (Inggris) - Satu lagi pejabat senior Red Bull Racing (RBR) akan pergi ke lain hati. Ia adalah Gianpiero Lambiase atau akrab disebut GP di paddock F1.
GP adalah race engineer untuk Max Verstappen sejak kali pertama pembalap Belanda itu gabung RBR pada musim kompetisi 2016. Belakangan GP juga didapuk sebagai Head of Racing dan tetap melakoni tugas sebagai race engineer untuk Verstappen.
Dalam dua tahun terakhir sejumlah tokoh senior satu per satu keluar dari RBR dengan berbagai sebab. Antara lain adalah Christian Horner, Helmut Marko, Adrian Newey, Jonathan Wheatey, Rob Marshal dan Will Courtenay.
Peran GP terbilang vital dalam perjalanan karir Verstappen meraih 4 gelar beruntun pada 2021 hingga 2024. GP ini yang bertanggung jawab pada seluruh aspek teknis persiapan mobil Verstappen, menentukan strategi balapnya, dan orang pertama yang berkomunikasi lewat radio dengan Verstappen selama balapan. Peran yang pastinya menuntut kecocokan personal keduanya di saat balapan maupun persiapan.
Verstappen sendiri mengaku sangat bergantung pada GP.
"Saya katakan kepadanya kalau saya hanya ingin bekerja dengannya. Jika ia keluar maka saya juga segera keluar," tegas Verstappen usai meraih gelar pertamanya pada 2021.
Media resmi F1 menurunkan artikel Breaking News pada Jumat (10/4) dinihari WIB) saat menaikkan berita kepergian GP. Menurut media ini, GP akan pergi dari RBR pada akhir musim 2026 nanti meski kontrak dengan RBR berlaku hingga akhir 2028. Sama dengan durasi kontrak Verstappen yang juga berlaku hingga 2028.
F1 menyebut GP akan berlabuh secara resmi di tim McLaren segera setelah kontraknya di RBR berakhir. Ia akan bergabung dengan tim McLaren dengan posisi Chief Racing Officer' reuni dengan kolega sebelumnya di RBR, Marshall dan Courtenay yang kini menjabat Direktur Teknik dan Direktur Sport McLaren.
Kepergian GP sudah dikonfirmasi RBR maupun McLaren.
Yang belum bereaksi secara terbuka adalah Verstappen. Apakah ia juga akan tinggalkan RBR seperti ucapannya pada 2021 terkait Lambiase?
Jawabannya, sangat mungkin terjadi. Karena musim ini pun sesungguhnya Verstappen tak lagi menikmati balapan dan sangat vokal mengkritik regulasi teknis F1 yang sangat bergantung pada manajemen tenaga listrik pada mobil ketimbang skill.alami seorang pembalap. Ia pun bandingkan mobil F1 sekarang ini dengan mobil balap Formula E.
"Saya tak lagi sekadar frustasi, tapi sudah lebih dari itu," tegas Verstappen yang di serial awal musim tahun ini menjadi pembalap medioker di kompetisi.
Bukan rahasia lagi kalau ayah dua anak itu menyebut akan pergi jika tak lagi menikmati balapan di F1.
"Dan saya akan mengikuti balapan lain dimana saya bisa menikmatinya," tandasnya.
Belakangan Vsrstappen beberapa kali tampil di endurance racing dan memiliki tim sendiri di kancah itu. Ia sudah pastikan ikut Nurburgring 24H tahun ini dan juga punya obsesi tampil di LeMans 24H.
Terbaru ia juga tunjukkan minat pada balap grand touring. D sela GP Jepang, Sirkuit Suzuka, lalu Verstappen menggebar mobil Nissan Z Nismo GT500 di Sirkuit Fuji. Pekan lalu ia juga latihan dengan mobil turing Mercedes.
Ďan, ia pun menegaskan apakah masih akan berada di starting grid F1 tahun depan akan sangat bergantung pada apakah ia masih merasa enjoy musim ini dan juga bergantung pada bagaimana perubahan regulasi yang telah ia sampaikan langsung kepada F1 dan manajemen F1.
Tahun depan tanpa Lambiase sepertinya kenikmatan Verstappen di F1 bakal terpengaruh. Ia seperti kehilangan "separuh jiwanya'. Itu tampak tahun lalu saat GP absen dalam dua seri balap dengan alasan pribadi. Tahun ini pun ia sudah bikin jadwal di seri mana saja tak akan bertugas, yang tampaknya ikut melemahkan semangat Verstappen.
Tinggal tunggu apa katanya karena media pasti mengejar komentarnya.(r)