mobilinanews (Jakarta) - Mulai musim gugur tahun ini, jalanan Jepang bakal kedatangan tamu yang akrab tapi asing: Toyota Camry buatan pabrik AS. Langkah reverse-import (impor balik) ini tergolong sangat langka buat Toyota yang selama ini kita kenal sebagai raja ekspor mobil dari Jepang ke seluruh dunia.
Kenapa Toyota repot-repot melakukan ini? Kuncinya ada pada defisit perdagangan.
Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump terus menekan Jepang terkait ketimpangan nilai dagang kedua negara. Tarif impor yang tinggi jadi senjata yang cukup mencekik industri otomotif Jepang. Nah, dengan memboyong sekitar 10.000 unit Camry buatan Amerika ke pasar domestik Jepang setiap tahunnya, Toyota ingin menunjukkan kalau mereka ikut membantu memutar roda ekonomi dan menciptakan lapangan kerja di AS.
"Jika langkah ini membantu memperbaiki neraca perdagangan sampai tingkat tertentu, ada harapan persoalan tarif bisa ditinjau kembali," ujar Ketua Toyota, Akio Toyoda, dalam sebuah acara di Prefektur Shizuoka.
Biar bisa diterima dengan baik oleh konsumen lokal, Camry-Camry "bule" ini bakal diproduksi khusus dengan sistem setir kanan sesuai aturan lalu lintas Jepang.
Bagi pasar domestik Jepang, Camry sebenarnya bukan barang baru. Sedan ini sudah mengaspal di sana selama puluhan tahun sebelum akhirnya Toyota memutuskan untuk menghentikan penjualannya pada tahun 2023 karena pergeseran tren pasar lokal yang lebih menyukai mobil berukuran mini (kei car) atau minivan.
Namun, demi meredam tensi politik global, Camry akhirnya "dihidupkan kembali" lewat jalur impor.
Sebelum Camry, Toyota sebenarnya sudah mencuri start dengan memasukkan dua kendaraan bertubuh kekar produksi AS ke Jepang sejak April lalu:
Toyota Tundra (truk pikap)
Toyota Highlander (SUV)
Bagi kita yang mulai masuk ke dunia profesional atau sedang memperhatikan dinamika global, langkah Toyota ini mengajarkan satu hal penting: Bisnis modern tidak pernah lepas dari politik global.
Sebuah produk tidak cuma dibuat karena ada permintaan pasar, tapi kadang-kadang diproduksi dan dipindahkan lintas benua sebagai alat negosiasi demi mengamankan bisnis yang lebih besar. Bagi Toyota, AS tetaplah pasar emas yang tidak boleh lepas. Mengorbankan sedikit biaya logistik untuk membawa Camry pulang kampung jauh lebih murah ketimbang harus terus-menerus digencet tarif impor tinggi di tanah Amerika.
Gimana menurutmu, apakah Camry "rasa Amerika" ini bakal sukses memikat hati konsumen Jepang lagi?