Bahlil Bongkar Keunggulan B50, Klaim Lebih Hebat dari B40 dan Siap Meluncur 1 Juli

Selasa, 09/06/2026 19:33 WIB |

 

Jakarta, MOBILINANEWS.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim kualitas bahan bakar biodiesel 50 persen (B50) lebih baik dibandingkan B40 yang saat ini berlaku. Salah satu keunggulan yang disoroti adalah kadar air pada B50 yang dinilai lebih rendah sehingga mampu menjaga kestabilan operasional mesin diesel.

Bahlil mengatakan hasil uji coba B50 sejauh ini menunjukkan perkembangan positif dengan tingkat keberhasilan mencapai 80 hingga 90 persen. Menurutnya, karakteristik bahan bakar baru tersebut bahkan dinilai lebih baik dibandingkan B40.

“Sekarang kan kita uji coba terus semuanya 80 sampai 90 persen dari hasil uji coba alhamdulillah baik bahkan kadar airnya dibandingkan dengan B40 dan B50 itu lebih baik di B50,” kata Bahlil di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (9/6).

Klaim tersebut sejalan dengan hasil pengujian Kementerian ESDM yang menunjukkan spesifikasi B50 diperketat dibandingkan B40. Dalam pengujian itu, batas maksimum kadar air B50 diturunkan menjadi 300 ppm dari sebelumnya 320 ppm pada B40.

Tak hanya kadar air, pemerintah juga menyempurnakan sejumlah parameter lain. Batas maksimum monogliserida diturunkan menjadi 0,47 persen massa dari sebelumnya 0,5 persen massa. Sementara itu, kestabilan oksidasi ditingkatkan menjadi minimal 900 menit dari sebelumnya 720 menit.

Bahlil memastikan implementasi B50 tetap berjalan sesuai jadwal, yakni mulai 1 Juli 2026. Saat ini pemerintah masih merampungkan tahap akhir pengujian teknis untuk memastikan kesiapan mesin kendaraan sebelum bahan bakar tersebut diterapkan secara nasional.

“Oh itu per 1 Juli 2026 akan diimplementasikan. Saya mungkin satu minggu lagi akan melakukan rapat dengan tim uji coba,” ujarnya.

Meski hasil sementara dinilai positif, Bahlil belum membeberkan rincian lengkap evaluasi teknis. Menurutnya, hasil akhir pengujian akan diumumkan setelah rapat evaluasi final dilakukan.

“Namun hasil akhirnya akan kami sampaikan pada saat setelah rapat evaluasi final,” katanya.

Uji coba B50 telah dilakukan sejak 9 Desember 2025 secara serentak di enam sektor, meliputi otomotif, pertambangan, alat pertanian, kelautan, pembangkit listrik, hingga perkeretaapian. Pada sektor otomotif, kendaraan di bawah 3,5 ton ditargetkan menempuh jarak 50.000 kilometer, sementara kendaraan di atas 3,5 ton menempuh 40.000 kilometer.

Hingga April 2026, hasil sementara pengujian menunjukkan penggunaan B50 pada kendaraan diesel aman tanpa kendala berarti. Kondisi mesin dan filter bahan bakar masih berada dalam batas standar pabrikan, sedangkan hasil pengujian emisi mencatat kadar karbon monoksida (CO) dan opasitas tetap di bawah ambang batas.

Hasil positif tersebut mendapat respons baik dari industri otomotif. Anggota Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Abdul Rochim berharap spesifikasi bahan bakar yang digunakan dalam pengujian dapat diterapkan saat implementasi nasional B50.

“Jadi kalau kami dari Gaikindo memandang hasil akhirnya bisa bertahan seperti ini, seperti hasil sementara ini, tentunya kami sangat senang dan kami berharap bahwa spek bahan bakar yang digunakan untuk uji ini menjadi spek untuk implementasi B50,” ujar Rochim.

Selain aspek teknis, pemerintah juga memproyeksikan dampak ekonomi signifikan dari implementasi B50. Hingga akhir 2026, program ini diperkirakan mampu menghemat devisa sebesar Rp157,28 triliun serta menambah nilai crude palm oil (CPO) sekitar Rp24,68 triliun.

Sejalan dengan transisi dari B40 ke B50, alokasi biodiesel tahun ini dinaikkan dari 15,64 juta kiloliter menjadi 17,60 juta kiloliter hingga akhir tahun. Pemerintah juga menargetkan implementasi B50 dapat menyerap sekitar 2,2 juta tenaga kerja dan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 sepanjang 2026.