Manuel Fangio Dan Ayrton Senna Satu Podium Di Interlagos, Brazil

Senin, 28/03/2016 17:36 WIB |
Ayrton Senna berpelukan dengan Manuel Fangio. Momen paling bersejarah
Ayrton Senna berpelukan dengan Manuel Fangio. Momen paling bersejarah

mobilinanews (London) –Hari Minggu  (28/3) kemarin, 23 tahun lalu, juara Formula One (F1) tiga kali, Ayrton Senna berada satu panggung dengan Juan Manuel Fangio, pemegang gelar lima kali dari era yang berbeda. Tidak tanggung-tanggung, lokasinya adalah podium Brazilian GP 1993 di Sirkuit Interlagos.

Saat itu Senna memenangi balapan, sementara posisi runner-up dan ketiga ditempati oleh Damon Hill serta Michael Schumacher. Demi melihat Fangio berjalan, siap menyerahkan piala, sontak Senna berlari turun dari podium teratas, menyambut Fangio, dengan tepukan di pipi serta pelukan hangat.

Sebuah peristiwa yang terjadi hanya sekian menit. Sangat pendek. Tetapi para penonton, terlebih penggemar Ayrton Senna bisa merasakan, betapa ia tulus dalam menyanjung pebalap F1 seniornya tadi. Untuk mengenang momen bersejarah ini, Grand Prix Collection Donington Park Circuit di Inggris mengabadikan Senna dan Fangio dalam bentuk monumen, dilengkapi dua bendera mereka, Brasil (Senna) dan Argentina (Fangio).

Fakta menarik dari Senna tentang siapa panutan atau kepada siapa ia menjadi fans adalah pernyataan terkenalnya, "I have no idols. I admire work, dedication and competence". Atau, "saya tidak memiliki idola. Saya mengagumi (hasil) kerja, dedikasi, serta kompetensi".

Tetapi soal kekaguman, Senna menyatakan terus-terang: ada. Seperti saat ia menjadi pembicara tamu di Skotlandia, sehubungan dengan museum tokoh F1 Jim Clark. Seorang murid college bertanya, siapakah tokoh F1 yang ia sukai?

Senna menyebutkan nama Juan Manuel Fangio dan menjelaskan betapa perilaku juara F1 lima kali ini bisa diacungi jempol, baik di dalam pun di luar trek. "I am a great fans of him and admire a lot," tuturnya. Atau, "saya penggemar beratnya dan sangat mengagumi beliau".

Sebelum pertemuan di podium Interlagos 1993 itu, Fangio dan Senna pernah bertemu tahun 1991 di Brasil dan tahun 1992 di Argentina.

Seperti sebuah potret yang dilansir Car and Driver the F1 dot com, bergambar Senna tengah merangkul Fangio disertai kalimat dalam bahasa Portugis, "ao amigo Fangio, do seu ... admirador ... afeto e carinho" atau kurang lebih "buat kawan saya Fangio, dari pengagum Anda, dengan penuh kehangatan".

Kedekatan antara Fangio dengan Senna juga terlihat, saat Senna mengalami tragedi di San Marino GP 1994 yang merenggut nyawanya. Fangio yang tengah menyaksikan dari televisi langsung mematikan kanal dan berkata, "ia tidak tertolong" dalam nada penuh duka.

 Fangio berpulang sekitar setahun setelah kepergian Senna, akibat sakit paru dan gagal ginjal. Dalam usia 84 tahun, sedang  Senna dalam 34 tahun atau setengah abad perbedaan usia mereka. (Ukirsari Manggalani, kontributor London)