motorinanews (Sambas) - Ada yang berbeda dari event balap garuk tanah yang diusung Sambas Otomotif Terpikat Terigas Club (SOTTC). Pada ajang Grasstrack Sambas Open 2017 yang digelar di Sirkuit Batu Bekajang di Rantau Panjang, Kec. Sebawi, Kab. Sambas, Kalimantan Barat pada Sabtu-Minggu (23-24/9) dimainkan kelas khusus scooter.
Dengan dibukanya kelas scooter, balapan terasa berbeda dari biasanya. "Kita memang sedang lakukan eksebisi dengan membuka kelas scooter, ternyata peminatnya cukup banyak, lebih dari 25 starter," sebut Hamdani Abu Bakar, Ketua Penyelenggara sekaligus Ketua SOTTC.
Di lahan seluas 2 hektar inilah Hamdani membangun sirkuit permanen miliknya. Meski panjang lintasan baru 700 meter, tapi masih bisa dikembangkan di areal perkebunan sawit itu. "Sekarang masih standar Kejurda, nanti kita perluas lagi," sebut pria berusia 54 tahun yang biasa disapa Along.
Selain dipakai buat kejuaraan grasstrack, sirkuit juga digunakan untuk Perkemahan Pramuka. Pasalnya Hamdani juga Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten Sambas. "Sehari-hari dipakai buat latihan pebalap lokal di Rantau Panjang dan sekitarnya," ungkap Along.
Kembali ke sirkuit. Lebih dari 110 pebalap menjadi peserta. Jumlah ini terasa cukup untuk main di sebuah desa yang letaknya cukup jauh. Batu Bekajang cukup dikenal karena memiliki objek wisata danau terkecil di dunia. Balapan bertambah seru karena juga dibuka kelas Mini Moto buat tracker berusia maksimal 12 tahun.
Pantas bila event ini didukung Yuliansyah, Ketua Pengprov IMI Kalimantan Barat dan AKBP Cahyo Hadiprabowo, Kapolres Sambas. Di kelas Sport & Trail, crosser Teten Wijaya dari Pontianak finisher pertama. Runner-up Fatikin Kecrox asal Semarang disusul M. Ali Ma'ruf dari Sambas. Dua lagi rider lokal Zulkarnaen Malik dari Bengkayang dan Budi Nafe dari Ketapang. Semua rider mengendarai Kawasaki Klx.
Sementara itu, kelas Free For All juga menjadi one make race Kawasaki Klx. Budi Nafe dari Ketapang, Fatron Kecrox asal Semarang, M. Gugun dari Tebas berbagi podium satu sampai ketiga. Dua tracker lagi Zain Al Fikri dari Ngabang dan Rio Dewara asal Pontianak harus puas di posisi keempat dan kelima.
Tak ketinggalan panitia juga menyediakan kelas crosser lansia. FFA usia 35 tahun ke atas menjadi ajang reuni mantan crosser dan penggila adventure. Supriyanto dari Pontianak menguasai kelas ini. Lalu Uray Asyarudin dari Singkawang, Rakhmat Seven asal Mempawah harus puas di tangga kedua dan ketiga. (BangVe)