Motorinanews, Jakarta - Ngomongin inreyen atau break-in, pabrikan juga menggaris bawahi pentingnya proses ini.
Meskipun merupakan motor baru yang sudah mengalami proses pengujian yang ketat di pabrik, setiap produk yang mereka hasilkan belum tentu sepenuhnya dapat langsung digunakan tanpa dilakukan pengujian lebih lanjut oleh penggunanya.
“Inreyen merupakan proses motor baru untuk menyesuaikan komponen-komponen baru yang saling bergesekan di dalam mesin. Selain untuk membiasakan diri pengendara dengan motor barunya, inreyen juga berguna untuk membersihkan mesin dari sisa-sisa gram saat proses perakitan,” papar Syafrudin, empunya Udin Motor.
Nah, bagaimanakah cara tepat melakukan inreyen motor baru? Berikut uraiannya.
Jaga kecepatan
Selalu menjaga kecepatan tuunggangan selama masih menempuh jarak di bawah 500 km pertama.
“Jangan memperlakukan motor secara ekstrim, seperti; berkendara dengan kecepatan tinggi, memutar grip gas terlalu penuh pada saat start dan melakukan pengereman secara mendadak,” anjur pebengkel di bilangan Halim Perdana Kusuma, Jaktim.
Hindari berkendara ekstrim
Hindari berkendara secara ekstrim terutama pada saat kondisi jalan basah atau licin. Ban motor baru masih mengalami proses adaptasi, sehingga grip yang dihasilkan di atas jalanan belum optimal dan beresiko slip.
Atur RPM
Atur putaran mesin dengan cara mengendalikan RPM motor di angka yang stabil dan tidak melebihi batas yang dianjurkan.
Memacu besutan dengan kecepatan tinggi saat inreyen, akan memperpendek usia komponen mesin akibat gesekan yang berlebihan.
Hindari beban berlebih
Jangan mengangkut beban yang berlebihan pada saat inreyen, karena menambah beban kerja komponen-komponen di dalam tunggangan dan mengurangi usia pemakaian.
Ganti oli mesin 1.000 km pertama
"Lakukan penggantian oli mesin dengan yang baru setelah mencapai 1.000 km pertama, agar partikel sisa-sisa gesekan antar komponen atau gram, dapat larut dan dibuang bersama oli bawaan motor," pungkas pebengkel pengalaman lebih dari 20 tahun.
Adaptasi dengan motor baru
Membiasakan diri dengan motor baru yang dimiliki. Pasalnya masa inreyen tidak hanya berlaku pada motor saja, namun pengendaranya juga harus melewati masa adaptasi untuk mencegah resiko yang terjadi akibat kelalaian si pengendara. (Banar)