Mobilinanews (Jakarta) - Kehadiran BYD Atto 1 dan deretan mobil listrik (EV) murah buatan China bikin jagat otomotif Indonesia panas dingin. Di media sosial, topiknya ramai dibahas—bukan hanya soal kecanggihan teknologinya, tapi juga soal “nasib” mobil murah ramah lingkungan alias LCGC (Low Cost Green Car).
Sekadar mengingatkan, LCGC adalah program pemerintah yang lahir untuk menghadirkan mobil hemat bahan bakar, ramah lingkungan, dan tentu saja terjangkau. Namun kini, posisinya mulai terancam oleh serbuan EV yang menawarkan biaya operasional supermurah.
Salah satu yang jadi sorotan adalah BYD Atto 1. Mobil ini diklaim hanya mengonsumsi listrik sekitar 8,5 km/kWh. Kalau diisi di SPKLU dengan tarif Rp 2.360/kWh, biaya per km cuma Rp 278. Kalau ngecas di rumah? Lebih gila lagi—hanya sekitar Rp 170 per km.
Pajak tahunan? Di bawah Rp 150 ribu. Belum lagi keuntungan bebas aturan ganjil-genap di Jakarta. Dengan harga jual sekitar Rp 195 juta, Atto 1 seperti sengaja dibidik untuk menggoda konsumen kelas menengah yang biasanya melirik LCGC premium.
Tidak juga. Kehadiran EV murah memang menekan LCGC, tapi bukan berarti segmen ini langsung hilang. Yang lebih mungkin adalah pergeseran pasar.
LCGC akan terdorong jadi kendaraan fungsional murah untuk pedesaan, transportasi massal ringan, dan usaha kecil.
EV murah akan jadi primadona di kota-kota besar untuk konsumen yang mau teknologi, kenyamanan, dan citra modern.