Menurut Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), campuran etanol rendah seperti E3,5 (3,5% etanol) masih tergolong aman digunakan pada sebagian besar kendaraan bermotor di Indonesia.
“Kandungan ini masih tergolong rendah, setara E3,5, dan berada di bawah batas aman internasional seperti E10 (10%) yang sudah dipakai luas di banyak negara. Bahkan etanol bisa meningkatkan daya serta torsi mesin, sekaligus menekan emisi karbon monoksida, hidrokarbon, dan partikel kecil lainnya,” jelas Yannes dikutip dari Otodriver.
Dengan kata lain, mesin mobil dan motor modern tak perlu khawatir karena kadar etanol di bawah 10% belum menimbulkan efek negatif bagi performa maupun durabilitas mesin.
Yannes menegaskan bahwa pencampuran etanol ke bahan bakar bukan hal baru di dunia otomotif. Banyak negara justru sudah menjadikannya mandatori (wajib) demi efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon.
Beberapa contohnya:
Amerika Serikat: sejak 2005 melalui Renewable Fuel Standard, mewajibkan penggunaan E10 (10%).
Uni Eropa: lewat Renewable Energy Directive (RED II) sejak 2009, menetapkan E10 sebagai bahan bakar standar.
Australia: di beberapa wilayah seperti New South Wales dan Queensland, E10 sudah wajib sejak 2017.
China: menerapkan E10 secara nasional sejak 2020.
India & Kanada: sama-sama menggunakan E5 sejak 2003 dan 2010.
Brasil: bahkan sudah memakai E20 (20%) sejak 1993!
Dengan data ini, jelas bahwa Indonesia sebenarnya sedang menuju arah yang sama dengan tren global, yaitu penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Kendaraan keluaran terbaru, terutama yang memakai sistem injeksi elektronik (EFI), sudah dirancang untuk beradaptasi dengan BBM bercampur etanol kadar rendah.
“Selama kadar etanol tidak berlebihan dan proses pencampurannya sesuai standar, tidak akan menimbulkan masalah pada sistem bahan bakar maupun performa mesin,” ujar Yannes.
Bahkan, menurutnya, etanol bisa meningkatkan efisiensi pembakaran karena mengandung oksigen alami yang membantu proses pembakaran di ruang mesin menjadi lebih sempurna. Efeknya, emisi gas buang jadi lebih bersih dan tenaga mesin bisa meningkat.
Yannes juga menjelaskan perbedaan kebijakan antara Pertamina dan beberapa SPBU swasta yang meminta pasokan bahan bakar tanpa etanol.
“Para SPBU swasta mintanya base fuel murni tanpa etanol karena mereka ingin melakukan proses blending sendiri dengan komposisi paten masing-masing,” ungkapnya.
Artinya, bukan karena etanol berbahaya bagi mesin, melainkan karena perbedaan kebijakan dan formula bahan bakar antarperusahaan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa BBM bercampur etanol kadar rendah (seperti E3,5) aman untuk mesin mobil dan motor modern — bahkan bisa memberi manfaat tambahan berupa:
Pembakaran lebih sempurna,
Emisi gas buang lebih rendah,
Tenaga dan efisiensi bahan bakar meningkat.
Selama kadar dan proses pencampuran dilakukan sesuai standar pabrikan dan regulasi resmi, tidak ada alasan untuk khawatir.
Etanol justru menjadi bagian dari evolusi bahan bakar masa depan yang lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan performa kendaraan.