mobilinanews (Inggris) - Setelah resmi keluar dari skuad Red Bull Racing (RBR), Helmut Marko pun blak-blakan membongkar prilaku buruk mantan prinsipil RBR Christian Horner.
Marko, mantan penasehat senior yang juga pendiri RBR bersama Dietrich Mateschitzt (pemilik industri minuman energi Red Bull) pada 2005, mengundurkan diri usai GP Abu Dhabi pekan lalu.
Sebelumnya pada Juli lalu Horner dipecat menejemen Red Bull Gmbh dan digantikan oleh Laurent Mekies.
Dalam wawancara khususnya dengan DeTelegraff, Marko menyebut sikap Horner mulai berubah pada 2022.
"Pada tahun tersebut ada sebuah pesta menjelang GP Austria. Di situ ada Didi (Mateschitzt), namun kesehatannya tidak bagus," katanya.
"Christian datang ke saya dan berkata 'ia (Didi) takkan bertahan sampai akhir tahun'. Sejak saat itu Christian mulai mendekat kepada Chalerm Yoovidhya," imbuh Marko menyebut taipan Thailand pemilik KratingDaeng yang kemudian menjadi mitra Mateschitzt membangun Red Bull.
Setelah Mateschitzt meninggal pada Oktober 2022, lanjut Marko, Horner melakukan apa saja untuk mengontrol perusahaan dengan dukungan Yoovidhya. Marko pun berusaha keras mencegahnya bersama orang-orang Mateschitzt lainnya.
Upaya itu berhasil. Namun, tahun-tahun terakhir bersama Horner tidaklah menyenangkan.
“Permainan kotor sedang dimainkan. Ingatkah Anda ketika diklaim bahwa saya mengatakan orang Meksiko kurang fokus dibandingkan Belanda atau Jerman selama masa Sergio Perez? Itu dibuat-buat - mungkin oleh mereka [kubu Horner]."
“Hal sama berlaku untuk klaim bahwa pada tahun 2024 saya menyebarkan cerita bahwa pengembangan mesin kami tertunda dan karena itu kami akan kehilangan Ford sebagai mitra. Saya tidak pernah mengatakan itu, tetapi Horner ingin menggunakannya untuk membuat saya diskors. Karena dukungan Max, hal itu tidak terjadi.”
Singkat cerita, performa RBR di awal musim 2025 mulai goyah. Verstappen dikalahkan duet Mcalaren Lando Norris dan Oscar Piastri.
Pada saat yang sama Horner pun mulai kehilangan dukungan Yoovidhya.
“Semakin sering kami mampu membuktikan bahwa Horner berbohong tentang berbagai hal,. Begitu Chalerm menyadari hal itu, ia pun berubah pikiran.”
Karena performa Verstappen makin tertinggal dari McLaren, maka akhirnya Horner dipecat. Menurut Marko, pemecatan itu terlambat.
"Andai melakukannya lebih awal, kami akan mengembalikan keadaan lebih cepat dan Max Verstappen akan menjadi juara dunia tahun ini. Saya benar-benar yakin akan hal itu," tegas Marko, 82 tahun.
Kesimpulan Marko mungkin ada benarnya. Pasalnya, sepeninggal Horner, penampilan RB21 langsung garang. Verstappen yang tadinya kalah 104 poin dalam perebutan gelar akhirnya bisa mengejar meski akhirnya gagal jadi juara dunia 2025 hanya dengan kekalahan 2 poin dari Norris. (r)