F1 2026: Max Verstappen Buka Kartu Soal Krisis Kepercayaan Diri di Red Bull pada 2018 Lalu

Kamis, 15/01/2026 11:11 WIB
bagas


Max Verstappen (Foto: Red Bull)
Max Verstappen (Foto: Red Bull)

Mobilinanews (Jakarta) - Max Verstappen dikenal sebagai sosok dominan yang nyaris tanpa cela di balik kemudi. Namun, jauh sebelum ia mengoleksi gelar juara dunia, Max pernah terjebak dalam pusaran kegagalan yang hampir meruntuhkan kepercayaan dirinya.

Dalam sebuah sesi refleksi mendalam, Verstappen mengungkapkan bahwa awal musim 2018 adalah periode paling sulit sekaligus paling berharga dalam karirnya di ajang balap Formula 1 (F1).

Lahir sebagai fenomena di usia 17 tahun bersama Toro Rosso pada 2015, Verstappen seolah ditakdirkan untuk sukses besar. Promosinya ke tim utama Red Bull di tengah musim 2016 yang berbuah kemenangan instan di Barcelona memperkuat narasi tersebut.

Namun, ekspektasi tinggi itu berubah menjadi beban berat dua tahun kemudian. Pada awal musim 2018, pembalap asal Belanda ini justru terjebak dalam rentetan insiden fatal yang terjadi di enam balapan pembuka secara beruntun.

Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan publik adalah tabrakan dramatis dengan rekan setimnya saat itu, Daniel Ricciardo, di GP Azerbaijan. Verstappen mengakui bahwa kegagalan demi kegagalan tersebut membuatnya masuk ke dalam "spiral negatif."

Semakin ia mencoba memacu mobil lebih keras untuk menebus kesalahan, semakin banyak kesalahan baru yang tercipta. Ketegangan internal ini membuatnya sangat kecewa dan marah pada diri sendiri, sebuah sisi manusiawi yang jarang ia tunjukkan di depan kamera.

Keajaiban itu akhirnya muncul di Montreal. Dalam GP Kanada, Verstappen berhasil melakukan pembalikan keadaan yang luar biasa dengan memuncaki seluruh sesi latihan bebas sebelum akhirnya mengamankan podium ketiga.

Ia menyebut momen di Kanada tersebut sebagai titik di mana segalanya kembali "klik." Sejak saat itu, performanya melesat tajam dengan kemenangan di Austria dan Meksiko, serta menutup musim dengan total 11 podium yang mengesankan.

"Awal musim 2018, sekitar tujuh atau delapan balapan pertama. Saya melakukan beberapa kesalahan sendiri dan terjebak dalam spiral negatif yang membuat saya merasa sangat kesal dengan diri saya sendiri,” ucap Verstappen dalam siaran F1, Rabu Kamis (15/1/2026).

“Kemudian saya mengalami titik balik di Montreal (memuncaki ketiga sesi latihan bebas dan finis di posisi ketiga), dan saya harus akui bahwa sejak hari itu, semuanya terasa benar-benar pas,” sambungnya.

Kini, di usianya yang telah menginjak 28 tahun, Verstappen memandang masa lalu tersebut dengan perspektif yang unik. Dimana ia tidak pernah membayangkan akan menjadi pembalap seperti apa saat pertama kali terjun di F1.

Dirinya mengaku tidak pernah tertarik untuk memprediksi masa depan. Ia telah menanamkan prinsip dimana, ketidaktahuan itu adalah bahan bakar yang menjaga motivasi seorang atlet tetap menyala.

Menariknya, jika diberi kesempatan untuk memberikan nasihat kepada dirinya yang masih muda, Verstappen memilih untuk tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia percaya bahwa setiap kesalahan adalah bagian krusial dari proses pembentukan karakter.

Menurutnya, mengetahui segalanya di awal hanya akan membuat seseorang menjadi malas. Baginya, terkadang cara terbaik untuk belajar agar tidak mengulangi kesalahan adalah dengan benar-benar melakukan kesalahan itu dan merasakan dampaknya langsung.

"Anda belajar dari masa-masa sulit, dan Anda membutuhkannya karena Anda bisa saja memberitahu seseorang, `Jangan lakukan ini, jangan lakukan itu`, tapi terkadang melakukan kesalahan justru membuat Anda tidak akan mengulanginya lagi,” pungkas Verstappen.

Tag

Terpopuler

Terkini