Rekor! Indonesia Kini Punya 4 Pemegang Superlicence Balap Motor Level Dunia

Rabu, 11/02/2026 10:42 WIB
bagas


Indonesia Kini Punya 4 Pemegang Superlicence Balap Motor Level Dunia (Foto: MGPA)
Indonesia Kini Punya 4 Pemegang Superlicence Balap Motor Level Dunia (Foto: MGPA)

Mobilinanews (Lyon) - Indonesia kian menancapkan taringnya dalam peta otomotif global. Bukan lagi sekadar menjadi penyedia lintasan balap yang eksotis, Indonesia kini resmi duduk di kursi pengambil keputusan strategis balap motor dunia.

Hal ini ditegaskan melalui kehadiran delegasi Mandalika Grand Prix Association (MGPA) dalam agenda bergengsi FIM Commission of Circuit Racing (CCR) Superlicence Seminar Meeting yang berlangsung di Lyon, Prancis, pada 5-8 Februari 2026 kemarin.

Pertemuan di Lyon bukanlah seminar biasa. Ini adalah forum tertinggi Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM) yang menjadi kiblat global bagi regulasi, standar keselamatan, hingga tata kelola balap motor kelas dunia seperti MotoGP dan WorldSBK.

Kehadiran MGPA untuk tahun kedua berturut-turut di salah satu forum bergengsi FIM ini didasari oleh undangan resmi yang sangat selektif yang telah ditujukan kepada empat putra terbaik bangsa.

Keempat putra terbaik itu meliputi, Priandhi Satria (Direktur Utama MGPA), Eddy Saputra (Advisor MGPA), Donny Mahardjono (VP Motorsport MGPA), dan Muhammad Awallutfi Andhika Putra (Track, Race Electronic, and Motorsport Manager MGPA).

Selama empat hari di jantung Prancis, kuartet delegasi Indonesia ini harus berjibaku dengan serangkaian agenda intensif. Mulai dari bedah studi kasus insiden balap, diskusi kelompok terarah mengenai silabus terbaru, hingga ujian tertulis yang ketat.

Semua ini dilakukan demi satu tujuan krusial, yakni memperpanjang masa berlaku FIM Superlicence, "ijazah" tertinggi yang mengizinkan pemegangnya mengendalikan jalannya balapan kelas dunia di negara mana pun.

Direktur Utama MGPA, Priandhi Satria, mengungkapkan bahwa undangan ini merupakan pengakuan tuntas atas kompetensi Indonesia. Menurutnya, Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata hanya sebagai penyelenggara acara.

Saat ini, perwakilan tanah air berada di dalam lingkaran diskusi strategis yang menentukan arah masa depan motorsport dunia. Indonesia kini memiliki suara dalam menentukan bagaimana sebuah balapan seharusnya dijalankan dengan standar keamanan tertinggi.

“Undangan dari FIM ini menunjukkan bahwa Mandalika dan Indonesia tidak hanya dipandang sebagai tuan rumah event internasional seperti MotoGP, namun kita sudah berada di dalam lingkaran diskusi strategis motorsport dunia,” ujar Priandhi.

Pencapaian ini sekaligus menandai babak baru kemandirian nasional. Jika tahun-tahun awal penyelenggaraan MotoGP di Mandalika Indonesia masih harus mengandalkan Clerk of the Course dari luar negeri, kini kendali penuh ada di tangan SDM lokal.

Muhammad Awallutfi Andhika Putra, atau yang akrab disapa Dhika, menjelaskan bahwa perangkat kontrol perlombaan di luar steward permanen FIM kini sudah 100% dijalankan oleh orang Indonesia, termasuk putra daerah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Memiliki empat pemegang Superlicence merupakan rekor sekaligus tanggung jawab besar bagi Indonesia. Lisensi ini bukanlah sertifikasi seumur hidup, ia memiliki masa aktif yang singkat, umumnya dua tahun, dan menuntut pembaruan berkala melalui ujian internasional. 

Dengan keberhasilan memperpanjang lisensi di Lyon, operasional balap di Sirkuit Mandalika untuk musim 2026 dan 2027 dipastikan aman dan tetap berada di bawah pengawasan ahli dalam negeri yang tersertifikasi secara global.

“Super Licence kami memang harus diperpanjang. Masa aktifnya dua tahun, jadi setelah dari Lyon ini lisensi kami kembali aktif. Perangkat kontrol kita di luar steward permanen FIM sudah 100 persen Indonesia, bahkan sudah lokal NTB,” terang Dhika.

“Ini tentu kebanggaan, karena Indonesia baru memiliki empat orang pemegang Superlicence. Tapi ini juga tanggung jawab besar untuk memastikan balapan berjalan aman dan lancar sesuai standar dunia,” sambungnya.

MGPA di bawah naungan InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) berkomitmen agar Sirkuit Mandalika tidak hanya menjadi saksi bisu adu kecepatan, tetapi juga menjadi pusat keunggulan (center of excellence) bagi sumber daya manusia di bidang motorsport.

Ilmu yang diserap dari Lyon akan langsung diterapkan dalam ajang nasional seperti Mandalika Racing Series (MRS), guna memastikan standar balap lokal merangkak naik menyamai standar FIM.

“Kami tidak ingin Mandalika hanya menjadi tuan rumah semata. Kami ingin Indonesia menjadi bagian dari sistem, dari pengambil keputusan, dan dari penentu standar balap dunia,” tutur kembali Priandhi Satria, dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).

“Ketika perangkat kontrol balapan sudah dipegang oleh SDM Indonesia, itu berarti kita bisa dan dipercaya. Dan kepercayaan itu harus dijaga dengan profesionalisme dan standar tertinggi. Jelas ini sangat membanggakan dan bukti Indonesia mampu,” tambahnya.

“Ilmu yang kami dapatkan, juga dapat kami terapkan di berbagai balap lokal maupun nasional di Pertamina Mandalika International Circuit, untuk lebih mendekatkan diri dengan standar balap internasional,” pungkas Priandhi.

Dengan posisi yang kini sejajar dengan negara-negara raksasa penyelenggara balap lainnya, Indonesia telah bertransformasi dari penonton menjadi aktor utama. Bendera Merah Putih kini tidak hanya berkibar di podium, tetapi juga tegak berdiri di ruang-ruang rapat tertutup tempat regulasi balap dunia dilahirkan.

Tag

Terpopuler

Terkini