Masalah Solar B40 Picu Risiko Downtime, Industri Alat Berat Dorong Strategi Preventif

Rabu, 06/05/2026 11:15 WIB
Wilfrid Kolo


Pengujian bahan bakar solar B40 di laboratorium agar mendukung operasional kendaraan berat
Pengujian bahan bakar solar B40 di laboratorium agar mendukung operasional kendaraan berat

mobilinanews (Jakarta) - Masalah Solar B40 menjadi perhatian baru dalam operasional industri alat berat, terutama karena berpotensi meningkatkan risiko unscheduled downtime yang berdampak langsung pada efisiensi dan profitabilitas perusahaan. 

Selama ini, unscheduled downtime masih menjadi tantangan utama yang sulit dihindari. Namun, dampaknya tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga memicu berbagai biaya tersembunyi (hidden cost) yang dapat menggerus margin keuntungan.

Biaya tersebut mencakup tetap berjalannya sewa alat dan gaji operator saat unit tidak beroperasi, potensi kehilangan produksi, hingga risiko penalti akibat keterlambatan proyek.

Dalam beberapa kasus, kerusakan unit bahkan menyebabkan mobilisasi keluar lokasi kerja yang menambah beban logistik.

Seiring dengan penerapan Solar B40 sebagai bagian dari transisi energi nasional, pelaku industri kini juga dihadapkan pada berbagai problem akibat kondisi alamiah dari Solar B40 yang memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaan bahan bakar. 

Tiga Masalah Solar B40 pada Industri Alat Berat

Dalam praktiknya, terdapat beberapa masalah Solar B40 yang kerap ditemukan di lapangan dan berpotensi memicu gangguan operasional: 

  • Mudah Menyerap Air (Higroskopis)

Solar B40 lebih rentan menyerap air, sehingga meningkatkan risiko kontaminasi yang dapat memengaruhi kualitas bahan bakar dan performa mesin. 

  • Munculnya Endapan (sludge)  dan Slime

Kandungan biodiesel memicu pertumbuhan mikroba yang menghasilkan slime dan juga faktor oksidasi alamiah akibat memiliki kandungan bio natural (FAME) berpotensi menghasilkan endapan (sludge) yang menyumbat filter dan mengganggu sistem injeksi. 

  • Stabilitas Bahan Bakar Lebih Rendah

Solar B40 cenderung lebih cepat teroksidasi, sehingga kualitasnya dapat menurun jika tidak dikelola dengan sistem penyimpanan yang tepat. 

“Jika tidak dikelola dengan baik, endapan (sludge) dan slime tersebut dapat masuk ke sistem injeksi dan menyebabkan gangguan performa mesin, seperti hunting hingga tripping saat unit beroperasi pada beban tinggi,” ujar Head of Marketing PT Islaverde Bioinnovation Utama, Luthfi Hernowo.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar problem Solar B40 tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui pengelolaan bahan bakar yang lebih terstruktur. 

“Pendekatan preventif menjadi kunci. Dengan menjaga stabilitas bahan bakar, memastikan berkurangnya penyebab munculnya endapan dan menjaga zat partikulat pencemar seminim mungkin sejak di tangki penyimpanan, risiko downtime dapat ditekan secara signifikan,” tambahnya.

Pendekatan preventif dalam mengatasi masalah Solar B40 tidak lepas dari peran data sebagai indikator objektif.

Melalui pengujian laboratorium, kualitas bahan bakar dapat dipantau secara akurat untuk memastikan stabilitas serta meminimalkan potensi kontaminasi partikel.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengelolaan bahan bakar yang tepat mampu menjaga performa mesin tetap optimal sekaligus menekan risiko gangguan operasional.

Tag

Terpopuler

Terkini