mobilinanews (Spanyol) - Dalam serial artikel terbaru INSIDE Ducati Lenovo Team di web resmi pabrikan Italia itu, Marc Marquez curhat soal kondisi fisiknya. Terutama bahu kanan yang masih bermasalah.
Bahu yang sejak GP Spanyol 2020 sudah bermasalah kembali cidera parah saat bentrokan dengan Marco Bezzecchi di GP Indonesia musim lalu. Membuatnya absen dalam 4 balapan terakhir dan tertatih-tatih di awal musim 2026.
Setelah rada sembuh, katanya belum 100%, ia langsung mencetak 3 kemenangan dan membuatnya kembali masuk trek perebutan gelar 2026.
Sayang, di GP Inggris, Silverstone, pekan lalu ia kembali ditimpa masalah. Cideranya kambuh lagi. Tangan kanannya susah dikendalikan, terutama pada Tikungan 1 dan 9 yang berkarakter cepat dan belok kanan. Ya, Marquez memang lebih jago di tikungan kiri dibandingkan kanan.
"Secara fisik kondisi saya tidak prima. Beresiko kecelakaan. Saya tak bisa mengontrol bagian depan motor di T1 dan 9," kata MM93 yang kini lebih bijak di lintasan dengan tak lagi memaksakan diri jika memang sudah merasa beresiko klontang.
Hasil di Sillverstone yang dalam sejarahnya memang tak cocok dengan gaya balap Marquez (hanya sekali menang di sana) jauh dari kata.maksimal. Ia hanya finish ke-9 di sesi sprint race dan ke-7 pada balap utama. Akibat berikutnya, yang tadinya hanya tertinggal 18 poin dari pemimpin klasemen sementara, kini melonjak jadi defisit 40 poin.
Untungnya, kalau boleh disebut sebagai keuntungan, seri berikutnya berlangsung di trek favorit juara dunia bertahan itu, yakni seri Aragaon di Spanyol. Ia punya waktu libur seminggu lebih untuk meningkatkan performa fisik. Dan, di Aragon ia adalah pemilik rekor kemenangan terbanyak dengan posisi finish P1 sebanyak 7 kali.
Seperti Sachsenring di Jerman, Marquez adalah raja di Aragon. Lintasan dengan 17 tikungan itu ia kuasai dan nikmati karena 10 tikungan mengarah ke kiri dan 7 ke kanan.
Tapi, setelah Aragon, ada 9 laga lagi yang menanti. Sebagian cocok secara teknis untuk Ducati Desmosedici dan sebagian lagi cocoknya ya buat Aprilia RS-GP.
Jadi, kalaupun Marquez bisa merebut poin maksimal 37 dengan kemenangan di sprint dan main race, itu belum membuatnya bisa mengambil alih pemimpin klasemen dari Jorge Martin. Apalagi semua pembalap pembesut Aprilia RS-GP juga berpotensi jadi penghalang.
Intinya, jika pun menang mutlak di Aragon pada 28-30 Agustus nanti , peluang Marquez mencetak 8 gelar MotoGP pada tahun ini sama sekali belum bisa dikatakan besar. Masih ada 9 seri berikutnya yang bikin penggemarnya layak waswas. Pertama karena kondisi fisik yang faktanya suatu saat bisa kumat lagi.
Yang kedua, tentu saja strategi Aprilia yang mungkin saja akan menerapkan team order jika situasi mengharuskan taktik itu demi meraih gelar bersejarahnya.
Empat joki Aprilia di grid semuanya terbukti siap main di baris depan. Tinggal tunggu situasi dan kondisi siapa yang dibantu dan siapa yang rmembantu. (*)