Gagasan Darmaningtyas Untuk Turunkan CC Motor Di FGD (Bagian 1)

Jum'at, 22/01/2016 08:54 WIB
redaksi


motorinanews (Jakarta) – Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan motorinanews pada Rabu (20/1) lalu di Joglo Beer, Kemang, Jaksel menghasilkan banyak pemikiran dari para tokoh dan akademisi.

Salah satunya adalah Darmaningtyas seorang pendidik dan pengamat transportasi nasional dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

Menurut Tyas –sapaan karibnya—sangat tepat membahas soal sepeda motor pasalnya data dari Korlanatas Polri sebanyak 70 persen kecelakaan yang terjadi dari sepeda motor.

“Fenomena yang terjadi di masyarakat, usia kecil sudah naik  pada naik motor. Anehnya orang sudah izinkan. Padahal belum punya kompetensi dan skill tapi diizinkan. Anak-anak sedang mencari identitas. Perilaku abaikan aturan ini diwujudkan dengan tidak pakai helem dan peralatan keselamatan laiinya,” ujarnya.

Domain pendidikan diperlukan, edukasi ke publik bahwa sepeda motor sebenarnya bukan sebagai moda tranportasi. Belum lagi lanjut Tyas, isu besar yang melilit sepeda motor vilume yang besar berdampak pada pemakaian bbm (bahan bakar minyak) yang besar. Padahal dari sisi kapasitas dengan hanya mengangkut dua orang, dari segi transprotasi menjadi tidak efisien.

Memang kalau dihitung per unit, tidak menyumbang kemacetan kalah dengan mobil.  Tapi karena populasi sepeda motor yang besar besar tetap berkontrubusi dalam kemacetan.

Di kota kota besar yang lebih  berbahaya tidak hanya  kemacetan tetapi kesemrawutan. Lawan arus bukan lagi alternatif  tapi sudah menjadi kebiasaan.

Juga selama ini pemerintah daerah tidak pikirkan angkutan transportasi utama.  Sepeda motor tidak hanya menjadi angkutan pemumpang tapi angkutan barang ke pasar,  sawah atau tegalan.

Karena tidak ada kebijakan yang jelas dari sepeda motor di desa-deaa, maka malah  motivasi pemiskinan di pedesaan hampir seluruh indonesia. Orang tua memilih menjual ternak, sawah, pohon jati jati untuk membeli motor.

Motor dipakai lama-lama menjadi rusak. Tanah swah sudah habis, melakukan proses pemimiskan. Dan ini bukan kasuistis tapi fenomena umum. Bukan hanya di Jawa tapi di Indonesia.
Soal keselamatan, saya usulkan cc (kapasitas mesin) diturunkan. Saat ini  tingkat fatalitas selalu berkolerasi dengan kecepatan, semakin cepat tingkat kecelakaan semakin tinggi. Kalau diturunkan ccnya  tingkat kecelakaan menajdi kurang.

Dengan cc yang diturunkan, secara teknis mengerem sepeda untuk dipakai mudik. Kalau ccnya masih tinggi seperti sekarang ya tetap pada dipakai mudik karena cepat. Kalau cc kecil dipakai mudik, pada males karena motor pelan dan membuat capek.

“Juga mengurangi begal-begal sepeda  motor. Kalau lambat begal nggak berani. Baru lari dikepruk orang. Punya dampak besar terhadap keselamatan dan penurunan angka kecelakaan,” urai Tyas yang lebih suka naik motor, kereta momuter dan busway ini.

Pemerintah harus berkomitmen untuk membenahi angkutan umum dan mengembalikan fungsi sepeda motor  sebagai angkutan sepeda moda transportasi lingkungan.

Sepada motor sebagai angkutan lingkungan jarak dekat, industri jangan kuatir, karena indikasi keberhasilan ekonomi tetap terjaga dengan fungsi sepeda  motor dikembalikan ke format semula itu

Tag

Terpopuler

Terkini