motorinanews (Jakarta) - Di era tahun 1990an, anak biasanya minta dibelikan sepeda saat naik kelas atau berprestasi.
"Kini hal tersebut mulai berubah. Tidak hanya di perkotaan, tapi juga di perkotaan. Anak sekarang mintanya sepeda motor," kata Paulus S Firmanto, Pengamat industri sepeda motor di Indonesia, yang juga mantan Direktur Roda Dua di APM Suzuki Indonesia dan mantan General Manager di Yamaha Indonesia.
Hal ini merupakan fenomena yang semakin memprihantikan di tanah air. Berdasarkan data Korlantas Polri pada tahun 2014, angka kecelakaan sepeda motor di kelompok umur 10 - 19 tahun adalah yang tertinggi, termasuk dalam jumlah angka yang tewas.

Menurut Jusri Pulubuhu (Training Director sekaligus Founder dari Jakarta Defensive Driving Consulting), faktor mental kedewasaan dalam berkendara merupakan salah satu bentuk kelemahan pengemudi remaja.
“Tantangan bagi pengemudi remaja lebih berat, karena kontrol emosi yang belum matang dan stabil. Pengemudi remaja masih mengedepankan kesenangan dan faktor keasyikan sesaat, tidak memiliki kekhawatiran soal resiko. Ini karena remaja memiliki kemampuan terbatas untuk melihat, menganalisis dan menyimpulkan kondisi lalu lintas,” terang Jusri.
Contoh terbaru mengenai keteledoran pengemudi motor remaja terjadi pada Minggu pagi 27 Desember 2015 sekitar pukul 10 pagi waktu Indonesia bagian tengah di jalan Trans Sulawesi kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Tiga remaja atas nama Anno Herman (13 tahun), Joring (11 tahun) dan Saddang (13 tahun) yang mengemudikan sepeda motor tipe bebek mengalami insiden tabrakan dengan sebuah minibus. Ketiga remaja ini langsung meninggal seketika di tempat akibat bagian kepala dan badan mereka digilas bodi dan ban mobil.
motorinanews pun sempat melakukan riset kecil-kecilan di sebuah jalan akses di perbatasan Depok dan Bogor. Hanya dalam waktu 10 menit, motorinanews dapat menyimpulkan setidaknya satu motor lewat dengan pengendara remaja belasan tahun setiap satu menit. Padahal riset kecil-kecilan ini dilakukan sekitar jam 12an siang WIB.
Jenis motor yang digunakan umumnya skutik, lalu diikuti tipe bebek atau moped, dan ada juga yang menggunakan tipe motorsport.
Fakta lain yang ditemukan, penetrasi penjualan sepeda motor ini tidak hanya merambah melalui peningkatan jumlah dealer 3S, namun juga masuk ke wilayah – wilayah pemukiman penduduk. Baik itu melalui ruko kecil ataupun di rumah penduduk itu sendiri. Uang mukanya pun sangat terjangkau, cukup membayar Rp 300 ribu.
“Di sinilah peranan orang tua dan sekolah dalam kampanye keselamatan berkendara SANGAT PENTING," kata Paulus. “Kalau di mall parkir motor 250cc ke atas diberikan keistimewaan, di sekolah mestinya juga bisa memberikan edukasi dengan cara memberikan keistimewaan untuk siswa yang bersepeda ke sekolah.”
Jika melihat data dan fakta ironi ini, masih mau memberikan anak Anda yang masih di bawah umur sepeda motor? Sepeda motor ternyata menjadi hadiah paling mematikan untuk kesayangan. Sebaiknya dilarang atau nanti menyesal kemudian, om tante...
Baca juga Pengendara Motor Di Bawah Umur Bagian Dari Strategi Penjualan. (Foto: Derry)




