motorinanews (Jakarta) – Di tahun 2015, masyarakat Jakarta dan sekitarnya diriuhkan dengan model transportasi baru, yaitu layanan ojek melalui pesanan di smartphone. Ada dua layanan yang mengemuka, yaitu Go-Jek dan Grab Bike.
Yuk, kenali lebih jauh profil keduanya:
Perbandingan Profil
Go-Jek (PT Go-Jek Indonesia) didirikan oleh Nadiem Makarim, pria penyandang gelar MBA dari Harvard Business School, pada tahu 2011. Sejak didirikan hingga Juli 2015, Go-Jek disebut telah memiliki lebih dari 10.000 driver, dan telah beroperasi di sejumlah kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali dan Makassar. Secara pembiayaan, Go-Jek disebut mendapat investasi pendanaan dari NSI Ventures.
Nadiem Makarim sendiri merupakan pria berdarah Pekalongan – Jawa Tengah (dari ayah) dan Pasuruan – Jawa Timur (dari ibu), dan kelahiran 4 Juli 1984. Hal ini pulalah yang kerap menjadi kata-kata promosi Nadiem menghadapi persaingan dengan Grab Bike yang merupakan aplikasi asal Malaysia, “Saya percaya orang Indonesia selalu memakai produk buatan anak bangsa sendiri.”
Grab Bike adalah layanan ojek modern yang dimiliki perusahaan Malaysia, Startup Unicorns dan didirikan oleh Anthony Tan. Grab Bike didirikan oleh Anthony Tan juga sekitar tahun 2011, sama dengan tahun berdirinya Gojek di Indonesia. Secara latar belakang pendidikan, Anthony Tan juga diketahui merupakan lulusan Harvard Business School.
Meski demikan, Grab Bikediketahui masuk ke Indonesia pada Juni 2014 dan di-launching pada Mei 2015. Hingga awal Juli 2015, pihak Grab Bike mengaku telah berhasil menggandeng lebih dari 5.000 pengendara ojek untuk bergabung.
Perbandingan Layanan
Baik Go-Jek dan Grab Bike merupakan layanan digital yang dapat digunakan para pengguna smartphone. Bedanya Go-Jek sementara baru bisa digunakan para pengguna smartphone berbasis Android (unduh via PlayStore) dan iOS (unduh via App Store). Sementara Grab Bike juga bisa digunakan oleh pengguna smartphone BlackBerry (unduh via BlackBerry World).
Bila Go-Jek memang fokus di layanan ojek berbasis smartphone, Grab Bike hanyalah salah satu bentuk layanan bisnis dari perusahaan yang didirikan oleh Anthony Tan itu. Pasalnya ada juga layanan GrabTaxi, yang bekerjasam secara independen dengan beberapa pengemudi taksi modern di Jakarta, seperti Express Taxi.
Dari segi jumlah pengemudi, Go-Jek diuntungkan dengan jumlah driver yang lebih banyak, sehingga notabene relatif lebih mudah menjangkau dan melayani kebutuhan konsumen. Pasalnya dari beberapa kali pengalaman, pada jam-jam tertentu khususnya di jam sibuk, termasuk cukup sulit mendapat layanan gojek modern ini. “Iya, mas. Bisa dibilang saat ini, saya masih kebanjiran pesanan konsumen setiap menitnya,” kata seorang pengemudi Go-Jek yang mengantar motorinanews dari stasiun Tanjung Barat menuju kantor Garda Oto di TB Simatupang, beberapa waktu lalu.
Seorang rekan jurnalis juga menyebut pengalaman salah seorang rekannya yang tertarik menjadi pengemudi Go-Jek. “Susah banget sms ke 081283687207 bisa masuk, mas bro. Sudah lima hari teman itu mencoba mental melulu. Kabarnya tiap hari ada 400 orang hingga lebih dari 1.000 orang yang tertarik mendaftar jadi pengemudi Go-Jek, dan mengirim aplikasi ke nomor sms tersebut,” kata rekan rekan jurnalis tersebut.
Rival Baru

Di awal Agustus 2015 di Jakarta juga mulai beroperasi Jeger Taksi, pemiliknya yang diketahui bernama Ficky Widjaja dan bermarkas di Srengseng, Jakarta Barat.
Berbeda dengan layanan Go-Jek dan Grab Bike yang identitas atribut helm dan jaket hijau, Jeger Taksi menggunakan identitas warna kuning. Selain itu Jeger Taksi juga diklaim sebagai ojek pertama yang menggunakan sistem argo.
Untuk kilometer pertama dikenai biayai Rp 4.800, untuk per kilometer selanjutnya dikenai biaya Rp 2.800. Jeger Taksi sendiri baru direncanakan pada bulan September 2015, dan sementara ini baru didukung oleh 500 unit motor.
Buat peminatnya, bisa memesan layanan Jeger Taksi melalui hotline 1500-107, WA di 08117-9999-8, BBM dengan PIN 2AE4C7EE, dan ID Line jegertaksi. Dalam waktu dekat, kabarnya juga bisa pesan melalui website mereka.