motorinanews (Jakarta) - Beberapa waktu lalu, motorinanews menjadi saksi kasus insiden antara seorang mekanik bengkel motor dengan seorang perempuan muda tepat di depan SMK 57, Jakarta Selatan.
Sang mekanik melaju di atas sepeda motor dengan kecepatan tinggi dari arah Pasar Minggu, sementara sang muda tengah menyeberang jalan hendak berangkat kerja. Pandangan keduanya terhalang oleh sebuah bus, sebelum insiden itu terjadi.
Efeknya, sang mekanik mengalami patah tangan dan luka lebam di beberapa bagian tubuhnya, sementara sang perempuan patah kakinya. Ironisnya, keduanya merupakan sumber penghasilan di keluarga masing-masing dan bukan dari kalangan ekonomi berada.
Mengetahui insiden semacam ini, motorinanews tergelitik mengetahui pandangan pakar mengenai antisipasi sisi yang tidak terlihat saat berkendara, atau kerap diistilahkan blind spot.
“Situasi ini biasa disebut blind spot, yaitu sebuah area pandang yang gagal terlihat karena terhalang sesuatu,” kata Jusri Pulubuhu, Training Director JDDC Crash Free Int’l.
Efek blind spot dari arah depan dipengaruhi oleh beberapa hal, mulai dari lingkungan, kondisi lalu lintas, hingga faktor cuaca. Dalam kasus di atas, setidaknya faktor lingkungan dan lalu lintas menjadi pencetus terjadinya area blind spot.
Mengantisipasi hal seperti ini, Jusri punya dua kiat sederhana. Pertama, turunkan kecepatan dengan mengurangi bukaan gas dan turunkan gigi transmisi ke gigi rendah, saat membaca terjadinya area blind spot.
Kedua, lakukan komunikasi dengan pengguna jalan lain melalui klakson atau lampu jauh (lampu beam).
Poin kedua tersebut juga akan berguna saat pengguna jalan hendak menyalip atau berbelok di tikungan area blind spot. Biasanya lawan dari arah berlawanan akan merespon dengan pola yang sama, baik dengan klakson atau balasan lampu jauh.
“Jangan pernah meremehkan hal-hal sederhana ini, karena kewaspadaan yang menurun akan menjadi kebiasaan yang memperbesar potensi kecelakaan. Ingat, kecelakaan adalah kegagalan antisipasi,” pungkas Jusri.