"Balap Motor Bebek Juga Perlu Hidup..."

Rabu, 29/04/2015 09:39 WIB |
Judiarto, pemilik IRS tidak izinkan lagi nama itu dipakai lagi
Judiarto, pemilik IRS tidak izinkan lagi nama itu dipakai lagi

mobilinanews.com (Jakarta) – Ketua Umum Pengprov IMI DKI Jakarta, A Judiarto menolak dituding sebagai sebagai tokoh di balik batalnya seri 2 IRS pekan lalu. Hal itu dikaitkan dengan pernyataan Frans Tanujaya selaku kabid olahraga roda dua PP IMI bahwa kejurnas 250 cc dan 600 cc akan diperlombakan di Indoprix 2015.

“Saya hanya ketua umum Pengprov IMI DKI, apakah saya bisa mempengaruhi keputusan PP IMI? Itu terlalu jauh dan cenderung fitnah,” ujar Judiarto tersenyum kepada mobilinews di Jakarta, Selasa (28/4) malam.

Namun diakui, sejak tahun lalu Lightning Production  miliknya diminta  mengelola balap Indoprix. Perintah itu langsung dari founder Indoprix, Juliari Batubara dalam rangka pembenahan dan kelangsungan balap motor bebek paling bergengsi itu.

Apakah tahun ini Indoprix akan kembali digelar Lightning Production? Judiarto mengatakan belum tentu. Malah pihaknya menawarkan kepada pihak yang berminat untuk mengambil alih. “Kami dengan senang hati. Syaratnya, Indoprix digelar dengan kualitas tinggi dan live tv seperti selama 7 tahun ini,” ujar Judiarto lagi.

Terkait rencana kelas supersport 250 cc dan 600 cc dimasukkan Indoprix, menurut mantan crosser nasional itu sudah menjadi wacana pada pertemuan perwakilan tim Agen Pemegang Merek, promotor dan IMI di kantor PP IMI, 8 April lalu. Dan ada notulennya.

Lalu bagaimana dengan kelanjutan IRS? “Menurut pemiliknya (Juliari Batubara), sudah tidak diizinkan nama itu dipakai lagi. Malu-maluin saja kata Pak Ari,” ungkap Judiarto.

Dari informasi yang didapatnya, IRS yang dikelola Bambang Gunardi banyak melakukan pelanggaran. Misalnya, mengadopsi balap one make race berseri di IRS. “Itu kan jelas tidak boleh. Pak BG selain kabid olahraga PP IMI (saat itu), juga komisi balap motor FIM,” sebutnya.

Pria asal Semarang ini menyebut, di IRS ada beberapa pengurus PP IMI yang ikut berbisnis. Artinya, itu ada conflict of interest. Belum lagi, IRS menunggak hutang biaya rekom kejurnas kepada PP IMI sejak tahun lalu hingga ratusan juta rupiah.

Di sisi lain, IRS kabarnya banyak mendapatkan sponsor dari APM, industri pendukung otomotif, ban hingga Pertamina. Makanya kemudian menjadi ironis jika sampai tidak mampu membayar biaya rekom event.

Namun yang paling berdampak dengan sepak terjang IRS adalah lesunya kejurnas balap motor bebek, dari kejurda, motoprix hingga Indoprix. Terutama dengan kebijakan menampung APM boleh menggelar OMR berseri tak ubahnya kejurnas.

“Saya juga mendukung balap supersport untuk ke jenjang MotoGP. Tetapi, jangan matikan balap motor bebek dong? Di belahan dunia lain, balap motor bebek dan skutik juga ada seperti di Thailand dan Malaysia. Balap motor bebek juga punya pangsa pasar yang tak kalah besar,” curhat Judiarto.

Balap Indoprix itu sudah menjadi industri yang menafkahi ribuan orang. APM juga punya kepentingan untuk melakukan riset, juga promosi produk. Dan meski dibilang penjualan motor bebek cenderung stagnan, namun tetap menjadi andalan penjualan APM hingga saat ini.

“Kalau kejurnas balap motor bebek mati, berapa banyak lagi yang akan mati sia-sia di jalan raya. Karena sirkuit ditutup, mereka akan kembali ke jalanan untuk balap liar. Data di polisi, kecelakaan lalu lintas menjadi pembunuh nomor satu. Bukan narkoba,” tutur Judiarto berapi-api.  

Jadi?