Julian Johan Ungkap Hal Yang Paling Ditakuti Jelang Laga Perdana di Dakar Rally 2026

Kamis, 28/08/2025 17:15 WIB | bagas
Julian Johan Matangkan Persiapan Menuju Reli Dakar 2026
Julian Johan Matangkan Persiapan Menuju Reli Dakar 2026

Mobilinanews (Jakarta) - Di balik semangat membara untuk mengharumkan nama bangsa, ada segelintir kekhawatiran yang menghantui pereli kebanggaan Indonesia, Julian Johan, jelang debutnya di Dakar Rally 2026.

Reli yang dijuluki "paling ekstrim di dunia" ini akan menguji fisik dan mental Jeje hingga titik terluar. Meski telah mengantongi pengalaman mumpuni, Jeje jujur mengakui bahwa bayang-bayang ketakutan masih sesekali datang.

Perbedaan Kondisi di AXCR dan Dakar

Pengalaman Jeje di Asia Cross Country Rally (AXCR) memang menjadi modal penting. Namun, ia tak menampik bahwa tingkat kesulitan di Dakar jauh di atas AXCR, dimana medan gurun yang brutal menghadirkan tantangan yang belum pernah ia temui sebelumnya.

"Menurut saya AXCR merupakan bentuk latihan fisik serta mental untuk ke level yang lebih tinggi, pasalnya AXCR sendiri boleh dibilang Dakar versi regional Asia," ungkap Jeje saat ditemui Mobilinanews, baru-baru ini.

Ganasnya Gurun Pasir

Salah satu ketakutan terbesar Julian Johan adalah tersesat di tengah gurun pasir. Di Dakar, kemampuan navigasi adalah kunci untuk tetap berada di jalur yang benar, alias tak hanya soal seberapa cepat mobil melaju.

Oleh sebab itulah, untuk meminimalisir resiko, Jeje pun memilih strategi jitu dengan menggandeng seorang co-driver berpengalaman asal Prancis, Mathieu Monplaisi, yang sebelumnya juga pernah berlaga di Dakar.

"Saya memutuskan co-drivernya adalah orang yang sudah berpengalaman agar bisa meminimalisir risiko seperti hilang atau tersesat di gurun pasir. Namanya Mathieu Monplaisi, dia punya ‘jam terbang’ yang cukup di Dakar ini,” jelasnya.

Untuk menaklukkan medan ganas Dakar, Jeje dan timnya akan melakukan serangkaian persiapan matang lewat latihan intensif, termasuk latihannya pertamanya di Gumuk Pasir Yogyakarta dan di Gurun Sahara, Afrika Utara dalam waktu dekat.

Namun, Jeje mengakui ada tantangan besar yang masih menghantuinya. Salah satunya, jika terjadi masalah teknis pada mobil yang tidak bisa diselesaikan di tengah gurun pasir. Apalagi, dalam Reli Dakar, setiap detik sangat berharga.

Menurut Jeje, di tengah gurun, tim pendukung dan mekanik tidak selalu bisa langsung dihubungi. Oleh karena itu, Jeje dan navigatornya harus mengandalkan pengetahuan dan keterampilan mereka sendiri untuk mengatasi setiap kendala yang muncul.

“Reli Dakar menuntut bukan hanya kecepatan, tetapi juga ketahanan mental dan fisik yang luar biasa. Memperbaiki kerusakan di bawah terik matahari, dengan waktu yang terus berjalan dan pesaing lain yang melaju, adalah tekanan yang luar biasa,” terangnya.

"Hal yang paling bikin saya khawatir adalah kalau ada masalah teknis, tapi tidak bisa kami perbaiki di tengah gurun. Kalau di balapan lain, kami bisa langsung panggil tim mekanik. Tapi di Dakar, kami harus bisa mandiri,” sambung Jeje.

Tak sampai disitu, perbedaan posisi setir dari kebiasaan menyetir di Indonesia menuntut adaptasi fisik dan mental yang tidak mudah. Dimana dalam hal ini Jeje akan berlaga menggunakan Toyota Land Cruiser 100 versi setir kiri.

“Jadi. kami harus kenal betul mobil ini luar dalam, mempelajari cara kerja mesin, transmisi, suspensi, dan semua sistem penting lainnya. Karena satu kesalahan kecil saja bisa mengakhiri balapan,” pungkas Jeje.

Kendati demikian, Julian Johan berharap persiapan matang ini bisa menjadi bekal untuk menepis semua kekhawatirannya. Dengan tekad baja, ia siap menghadapi ketakutan, menembus batas, dan membawa nama Indonesia di ajang balap paling bergengsi di dunia.