Mobilinanews (Jakarta) - Era baru Red Bull Racing resmi dimulai. Isack Hadjar, pembalap muda berbakat asal Prancis, kini tengah bersiap menghadapi tantangan terbesar dalam kariernya di samping sang juara dunia empat kali, Max Verstappen.
Pengumuman yang dilakukan menjelang penutupan musim 2025 di Abu Dhabi ini memastikan bahwa Hadjar akan naik kelas ke tim utama pada musim 2026, menyusul performa impresifnya sebagai debutan di tim satelit Racing Bulls.
Bagi pembalap berusia 21 tahun tersebut, bergabung dengan skuat yang bermarkas di Milton Keynes ini bukan sekadar promosi jabatan, melainkan sebuah kepulangan ke tim impian masa kecilnya.
Red Bull Racing memiliki sejarah panjang dalam mendominasi lintasan, mulai dari era emas Sebastian Vettel yang menyapu bersih empat gelar juara dunia berturut-turut pada 2010-2013, hingga dominasi Verstappen yang baru saja dipatahkan Lando Norris di 2025.
Hadjar mengakui bahwa warisan kejayaan tim adalah magnet utama baginya. Ia mengenang masa kecilnya saat menyaksikan mobil biru gelap Red Bull mendominasi podium di bawah kendali Vettel.

Namun, daya tarik terbesar baginya saat ini adalah kesempatan untuk berada di garasi yang sama dengan Verstappen. Baginya, menjadi rekan setim Verstappen adalah ujian mutlak untuk mengukur kemampuannya melawan standar tertinggi dalam dunia balap mobil.
"Sejujurnya, ada dua hal. (Pertama) berada di tim juara dunia. Saat saya tumbuh besar menonton Formula 1 (F1), saya melihat Vettel memenangkan semua balapan itu bersama Red Bull sewaktu saya masih kecil,” ucap Hadjar dalam siaran F1, Kamis (8/1/2026).
“Dan (hal kedua adalah) menjadi rekan setim Max (Verstappen), untuk melihat seperti apa rasanya atau merasakan bagaimana rasanya menghadapi level terbaik di dunia. Ini benar-benar sangat menarik,” sambungnya.
Ketertarikan Hadjar terhadap Verstappen bukan tanpa alasan. Ia mengaku sangat mengagumi rasa lapar yang tidak pernah padam dari Verstappen meskipun telah mengantongi empat gelar juara dunia.
Hadjar terkesan dengan bagaimana Verstappen masih bisa merasa sangat kecewa ketika hasil balapan tidak sesuai keinginan, sebuah mentalitas yang menurutnya jarang dimiliki oleh juara yang sudah mencapai puncak kesuksesan.
"Saya rasa tidak semua juara bisa melakukan itu, begitu Anda melewati level tertentu, Anda mungkin akan sedikit menurunkan intensitas Anda, tetapi dia tampak seolah-olah baru memulai seperti halnya saya, jadi itu sangat mengesankan,” paparnya.

Menghadapi musim 2026, Hadjar bersikap realistis namun tetap optimis. Musim tersebut akan menjadi tantangan unik karena Formula 1 akan memperkenalkan regulasi teknis baru yang dinilai cukup masif.
Perubahan aturan ini membuat peta persaingan kembali ke titik nol, yang menurut Hadjar, justru menguntungkan baginya sebagai pembalap muda karena semua orang harus beradaptasi dari awal tanpa data lama sebagai acuan.
Persiapan intensif akan segera dimulai pada awal tahun depan. Fokus utama Hadjar adalah membangun kemitraan yang solid dengan staf teknis Red Bull guna memastikan dirinya tidak tertinggal dalam pengembangan mobil baru.
Ia dijadwalkan akan turun ke lintasan untuk pertama kalinya dalam sesi tes privat pramusim di Sirkuit Barcelona-Catalunya pada akhir Januari, sebelum melanjutkan pengujian resmi di Bahrain pada bulan Februari mendatang.
"Saya sama sekali tidak memiliki ekspektasi karena semua orang memulai dari nol. Jadi ya, pekerjaan harus diselesaikan. Saya sangat menantikan untuk bekerja dengan tim. Akan sangat krusial untuk mencoba dan unggul sedikit di depan (pesaing lain),” tutup Hadjar.