Mobilinanews (Jakarta) - Dunia balap motor sedang digemparkan oleh langkah strategis BMW Motorrad yang baru saja memperkuat lini pembalap mereka untuk musim World Superbike (WorldSBK) 2026.
Dengan mengamankan tanda tangan Miguel Oliveira, pabrikan asal Bavaria ini tidak hanya sekedar menyusun tim impian di ajang superbike, tetapi juga memicu spekulasi besar mengenai kemungkinan mereka melangkah ke kasta tertinggi balap motor dunia, MotoGP.
Kehadiran Oliveira di markas BMW menciptakan dinamika yang menarik. Pembalap asal Portugal itu secara terbuka menyatakan bahwa meski ia berkomitmen penuh pada proyek WorldSBK, hasratnya untuk tetap terhubung dengan MotoGP tidak pernah padam.
Di tengah pembicaraan yang masih berlangsung dengan Aprilia mengenai peran sebagai pembalap tes, posisi Oliveira di BMW menempatkannya sebagai aset yang sangat strategis.
Jika raksasa Jerman tersebut akhirnya memutuskan untuk membangun prototipe Grand Prix, mereka sudah memiliki pembalap dengan pengalaman kemenangan di kelas premier yang siap memimpin pengembangan.

Rumor mengenai ekspansi BMW ke MotoGP bukanlah berita baru, sebelumnya isu ini telah berhembus kencang selama lebih dari satu dekade, terutama setelah mundurnya Suzuki pada akhir 2022 lalu.
Momentum semakin menguat seiring pengumuman regulasi teknis baru MotoGP untuk tahun 2027 yang akan menggunakan mesin 850cc. Namun, BMW menghadapi tantangan waktu yang cukup krusial.
Saat ini, kompetitor seperti KTM dan Honda bahkan sudah mulai menguji prototipe 850cc mereka di lintasan, sebuah fakta yang menimbulkan keraguan apakah BMW sanggup mengejar ketertinggalan untuk debut tepat pada musim 2027.
Meski demikian, fokus jangka pendek BMW tetap sangat tajam. Setelah kesuksesan fenomenal Toprak Razgatlioglu, skuat Bavaria ini kini mengincar ambisi besar untuk meraih gelar juara dunia WorldSBK ketiga secara beruntun.
Kekuatan tempur mereka musim depan akan sangat mengerikan dengan menduetkan dua pemenang balapan MotoGP, yakni Miguel Oliveira dan Danilo Petrucci, kombinasi yang menegaskan bahwa BMW saat ini adalah salah satu kekuatan paling dominan di WorldSBK.
Dalam sebuah sesi wawancara pada putaran terakhir karirnya di MotoGP, Oliveira memberikan pandangan yang sangat hati-hati namun optimis mengenai masa depan pabrikan barunya.
Ia menegaskan bahwa fokus utama BMW saat ini adalah mempertahankan dominasi di WorldSBK hingga setidaknya tahun 2027. Namun, ia tidak menampik bahwa naik kelas ke MotoGP adalah sebuah "langkah alami" bagi pabrikan sebesar BMW.
Menurutnya, setelah lebih dari sepuluh tahun memapankan diri sebagai salah satu manufaktur terkuat di WorldSBK, ekspansi ke kelas utama adalah evolusi yang sangat logis, meski keputusan tersebut bergantung pada banyak variabel internal perusahaan.
“Maksud saya, saya bukan orang yang tepat untuk membicarakan hal itu dan rencana mereka untuk masa depan. Saya tahu mereka berkomitmen pada WorldSBK dan itulah yang ingin mereka lakukan untuk musim depan,” ucapnya dikutip Crash, Sabtu (10/1/2026).

“Mulai tahun 2027 dan seterusnya, saya yakin itu juga akan terjadi. Mereka telah berada di kejuaraan (WorldSBK) selama lebih dari satu dekade sekarang. Jadi mereka cukup mapan di sana, dan mereka adalah salah satu pabrikan terkuat,” tambahnya.
Satu faktor teknis yang mungkin menjadi "karpet merah" bagi BMW adalah transisi MotoGP ke ban Pirelli pada tahun 2027. Di musim WorldSBK mendatang, Oliveira akan menghabiskan banyak waktu untuk mendalami karakter ban asal Italia tersebut.
“Jadi Anda akan berpikir itu akan menjadi langkah alami untuk naik ke MotoGP, tetapi itu tergantung pada banyak hal, yang sebenarnya bukan saya orang yang tepat untuk membicarakannya. Tapi saya pasti ingin melihat mereka (di MotoGP),” terangnya.
Jika BMW benar-benar memutuskan untuk terjun ke MotoGP saat regulasi baru berlaku, mereka akan memulai perjalanan tersebut dengan pembalap yang sudah sangat memahami data ban dan karakteristik mesin di ambang transisi teknologi.
Bagi para penggemar balap, kehadiran BMW di grid MotoGP bukan lagi sekadar pertanyaan "apakah", melainkan "kapan" raksasa Jerman ini merasa waktunya sudah tepat untuk menantang dominasi pabrikan Jepang dan Italia di panggung dunia.