Keluar dari Zona Nyaman, Daffa AB Siap Hadapi Balap Endurance 6 Jam di Sirkuit Mandalika

Selasa, 27/01/2026 09:38 WIB | bagas
Daffa AB Ikut Pertamina Endurance 6 Hours (Foto: IG/@rais_maulana_)
Daffa AB Ikut Pertamina Endurance 6 Hours (Foto: IG/@rais_maulana_)

Mobilinanews (Jakarta) - Lanskap Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika bersiap menjadi saksi bisu transisi krusial bagi salah satu talenta muda terbaik tanah air, Daffa Ardiansyah Boediharjo atau yang lebih akrab disapa, Daffa AB

Pembalap yang selama ini mendominasi podium di ajang Porsche Sprint Challenge Indonesia (PSCI) dan Subaru BRZ OMR ini kini melangkah keluar dari zona nyamannya, menghadapi ujian ketahanan fisik dan mental dalam balapan berdurasi enam jam.

Bagi Daffa, keikutsertaannya dalam balap Pertamina 6 Hours Endurance ini bukan sekadar upaya menambah barisan trofi di lemari pajangannya, melainkan sebuah misi untuk memperdalam naluri balapnya.

Ia menyadari bahwa memacu mobil selama ratusan menit membutuhkan paradigma yang sangat berbeda dibandingkan balapan singkat yang menuntut agresi instan. Di sini, musuh utamanya bukan hanya pembalap lain, melainkan ego dan manajemen emosi diri sendiri.

Balap selama enam jam jelas bukan perkara biasa, terutama bagi pembalap yang selama ini lebih akrab dengan format sprint race. Namun justru di situlah tantangan itu terasa sangat menggoda bagi Daffa AB.

Dalam dunia endurance, istilah one-man show sama sekali tidak berlaku. Daffa menekankan bahwa aspek yang paling dicari dalam kompetisi ini adalah pemahaman mendalam mengenai dinamika tim.

Kecepatan murni di lintasan akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan strategi pit yang presisi dan komunikasi yang cair antara pembalap dan kru. Setiap detik di area pit stop memiliki nilai yang sama krusialnya dengan setiap detik di atas aspal.

Daffa melihat balapan ini sebagai ruang belajar yang utuh untuk melatih kesabaran dan konsistensi. Ia tak lagi hanya mengandalkan insting di balik kemudi, melainkan harus terus melakukan evaluasi berkelanjutan dengan tim di setiap putaran. 

Ia berpendapat bahwa balap endurance menuntut ritme yang panjang dengan kompleksitas yang jauh lebih tinggi. “Bukan cuma nambah experience endurance-nya, tapi juga experience kerja-sama bareng tim,” ujar Daffa dengan penuh keyakinan.

“Selama ini, balap sprint menuntut kecepatan dan fokus dalam waktu singkat. Endurance berbeda. Ritmenya panjang, dinamikanya kompleks, dan komunikasi menjadi kunci utama,” tambahnya, mengutip siaran resmi MGPA, Selasa (27/1/2026).

Untuk menghadapi tantangan besar tersebut, Daffa menjatuhkan pilihannya pada skema "Arrive and Race" yang ditawarkan oleh Mandalika Grand Prix Association (MGPA) melalui unit Krida Toyota Agya GR.

Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Bagi seorang atlet profesional, efisiensi energi adalah segalanya. Dengan konsep ini, ia tak perlu dipusingkan oleh urusan logistik atau teknis modifikasi mobil yang seringkali menguras fokus sebelum bendera start dikibarkan.

Setiap unit Toyota Agya dalam program ini telah dimodifikasi secara profesional sesuai dengan standar Kejuaraan Nasional. Keunggulan ini membuat Daffa bisa datang ke sirkuit dengan pikiran yang tenang dan siap tempur.

“Mobilnya proper sudah dimodifikasi mengikuti standar Kejuaraan Nasional (Kejurnas). Ini sangat praktis. Tinggal bawa baju balap dan perlengkapan, terus gas,” katanya dengan nada santai namun tetap serius menunjukkan kesiapannya.

Program yang diinisiasi MGPA ini memang dirancang untuk menyederhanakan birokrasi teknis bagi para pembalap dengan skema maksimal empat pembalap dalam satu tim untuk saling berbagi peran tanpa harus memikirkan beban perawatan mobil secara mandiri.

Ya, dengan biaya sewa sebesar Rp115.000.000 per tim, peserta sudah mendapatkan paket lengkap yang mencakup biaya pendaftaran, dukungan tiga mekanik ahli, hingga logistik bahan bakar sebanyak 200 liter Pertamax Turbo dan tiga set ban Hankook Ventus RS4. 

Bagi Daffa AB, aspal Mandalika adalah sekolah terbaik untuk mendalami arti motorsport yang sesungguhnya. Balapan ini bukan soal siapa yang paling cepat menyentuh garis finis, melainkan tentang siapa yang mampu bertahan paling lama dengan performa paling stabil.

Dengan pendekatan yang terukur, Daffa memandang pengalaman ini sebagai fondasi kuat untuk menapaki jenjang karir yang lebih tinggi di kancah internasional. Partisipasi ini membuktikan bahwa adaptabilitas adalah kunci kesuksesan seorang pembalap.

Melalui kolaborasi antara talenta individu yang hebat, manajemen tim yang solid, serta fasilitas praktis dari MGPA, balap endurance di Indonesia kini memasuki era baru yang lebih inklusif namun tetap kompetitif.