Mobilinanews (Jakarta) - Ikatan Motor Indonesia (IMI) memanfaatkan momen Ramadan untuk menggelar acara buka puasa bersama yang dihadiri oleh jajaran pengurus, komunitas roda dua dan roda empat, hingga para tokoh otomotif nasional.
Suasana hangat menyelimuti Sekretariat IMI Pusat di Senayan, Jakarta pada Kamis (12/03/2026). Lebih dari sekadar seremoni keagamaan, pertemuan ini menjadi panggung bagi IMI untuk mempertegas komitmennya dalam memajukan industri balap tanah air.
Ketua IMI Pusat, Moreno Soeprapto, mengungkapkan bahwa momen berkumpul di bulan suci ini merupakan hal yang sangat dinantikan. Menurutnya, Ramadan bukan hanya tentang ibadah puasa, melainkan waktu terbaik untuk memperkuat ikatan antar anggota organisasi.
“Acara buka puasa bersama hari ini adalah di mana di bulan Ramadan ini tidak hanya menunggu buka puasa saja, tapi saya rasa menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu,” ujar Moreno.

Dalam pidatonya, Moreno menegaskan bahwa semangat kebersamaan ini akan menjadi mesin penggerak utama dalam mengeksekusi program kerja ambisius IMI di periode mendatang.
Fokus utama IMI ke depan adalah penguatan pembinaan atlet muda melalui kompetisi yang masif. Moreno memaparkan target ambisius berupa penyelenggaraan 198 Kejuaraan Nasional (Kejurnas) yang telah disepakati untuk tahun ini.
Angka tersebut bahkan belum termasuk ribuan Kejuaraan Daerah (Kejurda) yang diprediksi akan menjamur di berbagai wilayah Indonesia.
IMI ingin menciptakan jalur prestasi yang jelas bagi pembalap muda mulai usia 6 hingga 16 tahun, sehingga bakat-bakat lokal memiliki wadah kompetisi yang terstruktur dari tingkat daerah hingga nasional.
“Alhamdulillah tinggal menunggu menuju kick off-nya. Saya juga mohon doa dan dukungannya dari teman-teman senior dan juga pengurus yang hadir di sini, termasuk pengurus provinsi walaupun tidak bisa 100% yang hadir,” ucapnya.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi semua pihak sangat krusial untuk membangun masyarakat unggul menuju visi Indonesia Emas melalui prestasi di lintasan balap.
Sebelum prosesi pemberian santunan kepada anak yatim dimulai, suasana religius diperkuat dengan tausiah dari Ustadz Subhan Bawazier. Menariknya, sang ustad mengaitkan nilai-nilai Ramadan dengan kedisiplinan di jalan raya.

Ia menekankan bahwa menuntut ilmu, termasuk memahami aturan lalu lintas dan teknis kendaraan, adalah bagian dari kewajiban bagi para pengendara yang mayoritas adalah masyarakat Indonesia.
Ustadz Subhan sempat melontarkan kritik sosial yang dibalut humor mengenai fenomena "polisi cepek" dan perilaku pengendara yang kerap mengabaikan aturan, seperti melawan arus atau salah menggunakan lampu sein. Menurutnya, ketidaktertiban di jalan raya adalah cerminan dari kurangnya penghargaan terhadap aturan yang dibuat oleh pihak berwenang.
"Kalau hidup tidak diatur oleh ahlinya, mau jadi apa negeri ini? Di jalanan, kita minimal harus paham rambu. Lampu merah berhenti, hijau jalan, dan kuning itu bersiap-siap, bukan malah tancap gas," pesan Ustadz Subhan mengingatkan para anggota komunitas yang hadir.
Acara ditutup dengan penuh khidmat melalui pembagian santunan dan makan malam bersama. Kebersamaan yang tercipta ini seolah menjadi simbol kuat bahwa ekosistem otomotif Indonesia siap melaju kencang dengan fondasi kekeluargaan yang solid.