mobilinanews (China) - Pembalap muda Mercedes Andrea Kimi Antonelli (Italia/19 tahun) meraih dua status mentereng dalam catatan rekor F1. Menjadi pole sitter termuda sepanjang sejarah dan pemenang grand prix termuda setelah Max Verstappen.
Kimi mencetak pole perdananya di balap F1 GP China pada Sabtu (14/3) sekaligus menjadi driver termuda dengan melampaui rekor Sebastian Vettel dengan selisih usia hampir 2 tahun. Kimi dengan usia 19 tahun 201 hari sedangkan Vettel si pemegang 4 gelar dunia pada umur 21 tahun 73 hari.
Berikutnya pada main race GP China, Minggu (15/3), Kimi sukses menyandingkan posisi pole dengan kemenangan. Kemenangan perdananya sejak memperkuat Mercedes tahun lalu. Dan, kemenangan yang diraih dalam usia 19 tahun 202 hari itu menempatkannya sebagai pembalap termuda kedua memenangkan grand prix F1 setelah Verstappen saat juara di GP Spanyol 2016 dalam usia 18 tahun 228 hari.
Ini menempatkan Kimi dalam grup 5 Besar pemenang termuda F1 bersama Verstappen, Vettel (21 tahun 73 hari), Charles Leclerc (21 tahun 320 hari) dan Fernando Alonso (22 tahun 26 hari).
Itu melengkapi rekor bergengsi sebelumnya yang tahun lalu dicetak Kimi pada GP Jepang dengan torehan sebagai pembalap termuda F1 yang mencetak fastest lap, yakni dalam usia 18 tahun 225. Menggeser posisi juara F1 4 kali Max Verstappen yang menjadi fastest lap termuda saat tampil di GP Brasil 2016 dalam usia 19 tahun 44 hari.
Diputuskan Pacar
Ada kisah menarik dalam perjalanan dan perjuangan Kimi meraih gelar prestisius itu. Karena sesungguhnya ia tidak dalam kondisi baik-baik saja sejak awal Februari. Saat kiisah asmara dalam usia mudanya berakhir menyedihkan setelah putus dengan pacarnya, Eliska Babickova, yang merupakan pembalap gokart jelita asal Rep.Ceko yang berkompetisi di Italia.
Pada akhir Februari lalu, Eliska membuat pengakuan lewat medsosnya bahwa ia dan Kimi telah putus jalinan asmara.
"Saya yang mengakhiri hubungan karena saya merasa bahwa kami tidak lagi sejalan dalam kehidupan pribadi dan dalam hal yang kami inginkan untuk masa depan," Eliska.
Ia menegaskan tak ada drama yang menjadi sebab. Tak ada dari mereka yang selingkuh karena memang tak ada orang ketiga di antara mereka.
"Siepanjang bulan Februari, saya dan Kimi mencoba mencari tahu berbagai hal. Kami hanya tidak yakin pada titik mana hubungan kami berada.Itulah mengapa saya tidak membahasnya sampai sekarang (akhir Februari) meskipun rumornya sudah beredar entah sejak kapan," tegasnya.
Pengakuan Eliska langsung dikaitkan dengan kecelakaan besar yang dialami Kimi di jalanan sepi San Marino, Italia, pada Minggu (15/2) dinihari atau sepulang malam mingguan.
Saat itu ia mengendarai supercar Mercedes-AMG GT 63 PRO 4MATIC+ Motorsport Collection. Itu salah satu seri Mercedes termahal dan diproduksi hanya 200 unit. Harganya jika dirupiahkan menyentuh Rp 4,7 miliar.
Pada malam sunyi itu ia menggeber mobilnya dengan kecepatan 180 km per jam padahal ketentuan maksimal kecepatan pada lokasi tersebut hanya 70 km per jam. Mobilnya menubruk sisi jalanan, rusak berat dan hanya mendapat pertolongan setelah Kimi sendiri menelepon polisi dan dibawa ke rumah sakit.
Kuat dugaan pada malam itulah ia diputuskan Eliska.
Kini dugaan kalau Kimi saat itu tengah patah hati diperkuat dengan pujian Toto Wolff atas aksi Kimi di GP China. Prinsipil tim Mercedes itu memuji kekuatan mental Kimi di tengah masalah yang merundungnya.
"Salah satu yang paling berkesan adalah Kimi bertindak dengan begitu dewasa dan tenang dalam menghadapi masalah. Ia mampu memisahkan masalah. Berbicara tentang apa yang ada di depan, bukan apa yang terjadi di belakang," kata Wolff.
"Di luar kemampuan mengemudikan mobil dengan cepat, ketahanan mental adalah kunci sukses seorang pembalap dan itulah yang ditunjukkan Kimi saat ini," imbuhnya seakan beri pesan positif untuk para pembalap muda di cabang balapan apa pun.
Forza Kimi! (r)