Sprint Rally 2026 Put 1: TransTrack Ciptakan Sistem Monitoring Sekelas WRC!, Simak Kecanggihannya

Selasa, 14/04/2026 15:27 WIB | bagas

Mobilinanews (Deli Serdang) - Komplek Sport Centre, Deli Serdang, Sumatera Utara menjadi saksi transformasi teknologi mutakhir pada industri otomotif, khususnya dalam kancah motorsport tanah air.

Pada seri putaran pembuka Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Sprint Rally 2026 yang berlangsung 11-12 April kemarin, aspek keselamatan peserta tidak lagi sekedar mengandalkan prosedur manual.

TransTrack, sebagai tech enabler yang berfokus pada digitalisasi armada, hadir mengintegrasikan sistem fleet operation optimizer miliknya untuk mengawal jalannya kompetisi di lintasan Sumatera Utara tersebut.

Melalui pengembangan Rally Tracking System berbasis teknologi lokal, TransTrack kini mampu menyajikan data posisi kendaraan secara real-time dengan interval pembaruan yang up-to-date setiap detiknya.

Langkah ini menandai evolusi berkelanjutan sejak teknologi serupa diperkenalkan pada Sumatera Utara Rally 2024. Fitur ini krusial mengingat karakteristik lintasan reli yang menantang, setiap detik keterlambatan respons terhadap insiden bisa berdampak fatal.

Perangkat yang terpasang pada setiap mobil peserta dilengkapi dengan tombol darurat multifungsi, mencakup sinyal SOS, indikator OK, tanda kebakaran (Fire), hingga informasi jalan terhambat (Blocked Road).

Founder dan CEO TransTrack, Anggia Meisesari, menegaskan bahwa inovasi ini merupakan jawaban atas kompleksitas kebutuhan industri motorsport modern, termasuk sinkronisasi antara efisiensi operasional dan perlindungan maksimal bagi atlet.

“Sejak kami pertama kali memperkenalkan teknologi ini pada 2024, kami terus melakukan pengembangan untuk menjawab kebutuhan industri motorsport yang semakin kompleks,” ucapnya dalam keterangannya kepada Mobilinanews, Selasa (14/4/2026).

“Komitmen kami adalah menghadirkan solusi berbasis teknologi yang tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memastikan keselamatan seluruh peserta menjadi prioritas utama,” sambung Anggia.

Urgensi digitalisasi di lintasan reli juga diamini oleh praktisi senior sekaligus pimpinan lomba, Poedio Oetojo. Sosok yang telah berkecimpung di dunia reli sejak 1972 ini memberikan perspektif sejarah mengenai betapa jauhnya perkembangan sistem pengawasan lomba.

Ia memaparkan bahwa dahulu, panitia penyelenggara hanya mengandalkan titik pantau radio di sejumlah titik kilometer tertentu yang meninggalkan "titik buta" (blind spot) jika terjadi kecelakaan di tengah sektor.

Menurutnya, aspek keselamatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan olahraga otomotif. Pemeriksaan kendaraan dan perlengkapan pengemudi sudah dilakukan sejak tahun 1970-an. Namun, sistem monitoring di lintasan masih terbatas.

“Sejak saya terlibat di dunia reli, mulai sebagai peserta pada tahun 1972 hingga menjadi pelaksana sejak 1978, keselamatan sebenarnya sudah mulai diterapkan, meskipun pada saat itu pengetahuan dan regulasinya masih sangat terbatas,” terangnya.

“Pemeriksaan kendaraan dan perlengkapan pengemudi sudah dilakukan sejak tahun 1970-an, termasuk penggunaan roll bar. Namun, sistem monitoring di lintasan masih terbatas,” papar Poedio Oetojo.

“Dulu, kami hanya mengandalkan radio point setiap beberapa kilometer untuk melaporkan posisi peserta, sehingga jika terjadi kecelakaan di antara titik tersebut, respons tidak bisa dilakukan secara cepat,” jelasnya.

“Dengan adanya tracking system saat ini, panitia dapat memantau pergerakan peserta secara real-time. Ini menjadi kemajuan penting dalam meningkatkan keselamatan dan pengawasan dalam penyelenggaraan reli,” urai Poedio secara mendalam.

Senada dengan itu, Chief Steward dari IMI Pusat, Adi Wibowo, menyoroti aspek akurasi data yang dihasilkan oleh sistem tracking ini. Adi merujuk pada standar World Rally Championship (WRC) di mana teknologi serupa telah menjadi kewajiban mutlak.

Menurunya, selain untuk keselamatan, data kecepatan dan posisi menjadi instrumen penting bagi pengawas untuk mendeteksi pelanggaran seperti overspeed atau perilaku berkendara yang tidak wajar.

“Monitoring safety dengan teknologi sudah pasti sangat membantu. Dengan alat tracking ini, seluruh pergerakan peserta dapat dimonitor dan direkam, sehingga data seperti posisi, kecepatan, dan waktu bisa digunakan jika diperlukan,” jelasnya.

“Ini merupakan kemajuan untuk dunia reli di Indonesia. Di level internasional seperti WRC, teknologi ini bahkan sudah bisa memonitor kecepatan secara langsung, termasuk mendeteksi over speed maupun kondisi kendaraan berjalan terlalu lambat,” ucap Adi.

Dari balik kemudi, para atlet merasakan ketenangan ekstra berkat keberadaan perangkat pelacak ini. M. Herkusuma, co-driver dari Dewa United Motorsport, menekankan bahwa teknologi lokal ini membantu tim untuk tetap fokus pada performa tanpa mengabaikan risiko. 

“Dalam motorsport, keselamatan adalah nomor satu. Dengan adanya teknologi ini sangat-sangat membantu, karena informasi bisa lebih cepat diterima dan kita bisa lebih cepat mengantisipasi kalau ada accident,” ungkapnya.

Harapannya, rally device yang dibuat secara lokal ini bisa terus dikembangkan, mengacu pada regulasi FIA, dan kedepannya bisa digunakan lebih luas, bahkan di-approve untuk level internasional seperti WRC Indonesia,” pungkas Heru.

Kendati demikian, dengan kesuksesan di putaran pertama Kejurnas 2026 ini, TransTrack dan IMI optimistis bahwa kolaborasi teknologi lokal dapat meningkatkan kredibilitas kompetisi otomotif nasional di mata internasional.