mobilinanews (Malaysia) - Bukan hanya Aprilia. Ducati pun kini dikabarkan mulai membahas kemungkinan team order untuk membantu Marc Marquez meraih gelar 2026.
Team order adalah strategi yang mewajibkan pembalap satu tim atau satu merek untuk membantu rekannya yang bersaing di perebutan gelar juara dunia. Dalam hal ini adalah membantu Marc Marquez sebagai satu-satunya joki Ducati yang punya kans juara tahun ini.
Lawannya adalah duet Aprilia Jorge Martin dan Marco Bezzecchi dengan selisih poin 10 dan 50 poin. Meski sisa balapan hanya 4 seri, segala macam drama bisa terjadi. Karena itu perlu strategi untuk membantu atau memprioritaskan seorang pembalap dalam kejuaraan, ya Marquez itu di Ducati.
Ada lima pembalap pengguna Ducati selain Marquez. Saat ini hanya ada 2 pembalap yang bisa diharapkan membantu Marquez jika diperlukan. Yakni Fabio Di Giannantonio (VR46 Ducati) dan Alex Marquez (Gresini Ducati). Keduanya cukup konsisten di zona 4 atau 5 Besar finisher. Francesco Bagnaia (Ducati), Franco Morbidelli (VR46) dan Fermin Aldeguer (Gresini Ducati) susah diharapkan karena performa yang kurang mengkilap.
Bos Ducati Davide Tardozzi mengatakan Ducati tidak menerapkan team order untuk melawan Aprilia yanģ mungkin saja akan mainkan strategi itu. Tapi, katanya, bukan tak mungkin akan dilakukan jika situasi mengharuskannya dan hal itu wajar dalam sebuah kompetisi.
Sialnya, TardozI bakal gigit jari jika wacana team order itu hendak direalisasikan. Bicara lewat media Italia GPone, pembalap Italia itu menolak mentah-mentah jika ia diminta untuk membantu Marquez. Bukan karena Marquez orang Spanyol, bukan pula karena tahun depan ia pindah ke skuad KTM, tapi karena Diggia - panggilan Giannantonio - lebih mementingkan diri sendiri dan kepentingan tim milik Valentino Rossi (musuh berat Marquez) itu. Padahal statusnya di VR46 adalah rider pabrikan dengan kontrak langsung dengan Ducati.
"Saya fokus pada diri sendiri, meraih prestasi terbaik musim ini. Dan, pada akhirnya, saya adalah pembalap berseragam kuning (warna khas Rossi dan VR46) dan saya ingin berikan yang terbaik untuk mereka sebagai perpisahan," kata Diggia yang sempat terancam tak punya tempat di grid MotoGP sebelum diselamatkan VR46.
Target Diggia di sisa balapan tahun ini adalah merebut posisi 4 Besar klasemen di akhir musim. Saat ini ia berada di P6 klasemen dan tengah bersaing keras berebut P4 melawan Pedro Acosta (KTM/P4) dan AI Ogura (Aprilia/P5).
Bukan tak mungkin, katanya, ia masih punya kesempatan menembus hasil akhir 3 Besar meski sadar tak mudah mengejar Bezzecchi di peringkat 3.
Kalau Diggia bilang ogah maka satu-satunya anak Ducati yang bisa menerima team order adalah Alex Marquez yang tak lain adalah adinda sayang MM93. Karena hubungan darah itu bisa dipastikan Alex akan membantu abangnya jika bisa ia lakukan. Diminta atau tidak.
"Saya pikir Marc tak akan memerlukan team order. Saya jika punya kesempatan menang dengan menyalipnya maka saya akan lakukan itu," katanya.
Diminta atau tidak, dipastikan sang adik akan bantu abang jika memungkinkan. Gejala terbaru tampak pada sesi sprint race GP Australia lalu. Marquez, Martin dan Alex sempat terlibat perang segi tiga. Alex bertarung keras dan ketat melawan Martin dan sempat menyalipnya dari sudut yang sempit sebelum disalip balik oleh Martin.
Tapi, ketika Martin terjerembab dan retire, Alex terkesan tak ingin menyerang sang kakak menjadi juara. Ia anteng di belakang si abang.
Alex pun ngeles soal itu.
"Sulit mengimbangi waktu Marc. Saya tak ingin ambil resiko dengan coba menyalipnya," dalihnya.
Ducati menolak kejadian itu sebagqi team order, tapi sesungguhnya itulah makna team order: membantu rean mendapat poin ekstra dan tidak ambil resiko crash dengan sang pembalap prioritas. (r)