mobilinanews (Malaysia) - Sebanyak 3/4 pembalap grand prix keberatan ikut ke GP Qatar dengan alasan keamanan. Lewat pernyataan tertulis mereka pun mengajukan 5 syarat agar bersedia menuju kawasan Timur Tengah yang masih diwarnai perang.
Perang AS/Israel vs Iran dan saling serang Saudi Arabia dengan Houthi di Yaman belum reda sama sekali. Area publik macam bandara pun ikut kena gempur rudal dan drone.
Itulah yang membuat pembalap deg-degan ke sana untuk mengaspal di GP Qatar akhir pekan ini. Pihak penyelenggara di Qatar maupun MotoGP Grand Prix Sports Entertaunment Group (MGPSEG) selaku pemegang hak komersial MotoGP yakin bisa menggelar balapan dengan kondusif dan segala persiapan telah disiapkan dan sedang berjalan.
Tapi tidak demikian di kalangan pembalap dan kru. Sejak GP Indonesia lalu para pembalap sudah bertemu untuk menyatakan sikap bersama apakah bersedia ke Qatar atau tidak.
Setelah Mandalika, penyatuan sikap itu lanjut di GP Austrakia dengan rapat 'rahasia' yang menghasilkan kesepakatan tertulis yang ditandatangani 3/4 pembalap regular.
Dikutip dari media Motorsport.com, pembalap menuntut lima syarat yang harus dipenuhi MGPSEG agar mereka dapat berpartisipasi. Yakni mencakup rencana evakuasi bagi seluruh personel di area paddock, asuransi jiwa, repatriasi, dan medis untuk mengantisipasi segala kemungkinan jika situasi memburuk.
Tuntutan itu dijawab MGPSEG bahwa semua jaminan tersebut telah diberikan oleh pemerintah Qatar. Tapi, para pembalap menginginkan pihak penyelenggara kejuaraan itu sendiri yang bertanggung jawab atas jaminan tersebut.
Karena kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengalah, para pembalap tampaknya semakin pasrah jika terpaksa atau 'dipaksa' balapan di Losail.
Di GP Malaysia mereka lantas melakukan satu upaya terakhir untuk meningkatkan tekanan.
Pada Jumat (30/10l sore, mereka kembali berkumpul Mereka sepakat untuk menyusun surat lain yang menegaskan kembali posisi mereka, sekaligus menuntut agar MGPSEG bertindak sebagai penjamin—sebuah syarat mutlak bagi kesediaan mereka untuk bertolak ke Doha.
Surat tersebut dikirimkan kepada perwakilan MGPSEG serta tim-tim balap dengan mencantumkan tenggat waktu. Jika mereka tidak menerima konfirmasi tertulis paling lambat hari Minggu pukul 16.00 yang menyatakan bahwa pihak penyelenggara kejuaraan akan bertanggung jawab atas segala kemungkinan yang terjadi di Qatar, maka mereka tetap pada keputusan untuk tidak berangkat.
Dan, pada Minggu (1/11] pagi masih di Sepang, para manajer tim bertemu dengan Carmelo Ezpelata dan anaknya - Carlos Ezpeleta - yang mewakili MGPSEG selaku CEO dan wakil direktur pelaksana MGPSEG. Dalam pertemuan tersebut, keluarga Ezpeleta yang tadinya adalah pendiri dan pemilik Dorna Sports justru menegaskan kepada tim untuk patuh pada kewajiban kontraktual mereka yang tertuang dalam kejuaraan ini. Tentu saja para manajer belum bisa jawab selain menunggu sikap para pembalapnya.
Kini tenggat waktu yang disampaikan pembalap sudah lewat dan belum ada kepastian dari MGPSEG.
"Kami akan terus memantau perkembangan dan senantiasa berkomunikasi dengan seluruh pihak berwenang dan pemangku kepentingan terkait. Keputusan semacam ini harus didasarkan pada fakta-fakta terkini, saran dari sumber resmi, dan penilaian yang matang pada saat keputusan tersebut diambil. Jika penilaian tersebut berubah, kami akan mengambil langkah yang sesuai," ujar Ezoeleta.
Artinya, ya belum ada kepastian pembalap akan berangkat ke Qatar. (*)