mobilinanews (Jakarta) - Kabar segar datang bagi para pengguna BBM non-subsidi. Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberi sinyal kuat mengenai potensi penurunan harga bahan bakar seperti Pertamax (RON 92) hingga Pertamax Green (RON 95). Penyesuaian ini berpeluang terjadi seiring dengan tren melemahnya harga minyak mentah dunia.
Saat ini, kisaran harga Pertamax masih berada di angka Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green menyentuh Rp17.000 per liter. Angka ini dinilai cukup berdampak bagi alokasi pengeluaran bulanan masyarakat, khususnya segmen pekerja muda dan profesional.
Pemerintah menegaskan tidak ingin terburu-buru tanpa perhitungan yang presisi. Bahlil mengungkapkan bahwa pihaknya tengah kalkulatif dalam memantau pergerakan harga minyak mentah internasional maupun Indonesian Crude Price (ICP) yang masih berfluktuasi.
Langkah konkret yang akan diambil dalam waktu dekat adalah menggelar rapat evaluasi bersama PT Pertamina (Persero) dan jajaran penyedia BBM swasta lainnya.
"Saya sudah menghitung dan saya akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun beberapa badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan," tegas Bahlil pada Senin (21/7/2026).
Dalam merumuskan formula harga baru untuk BBM non-subsidi—seperti Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, Dexlite, hingga Pertamina Dex—pemerintah berupaya mengambil jalan tengah yang bijak.
Kebijakan ini dirancang agar tidak membebankan konsumen, namun tetap menjaga keberlangsungan ekosistem bisnis penyedia migas di Indonesia.
Porsi Pengguna: Konsumen BBM non-subsidi mencakup sekitar 20% dari total pengguna kendaraan nasional.
Fokus Subsidi: BBM subsidi dipastikan tidak mengalami kenaikan harga hingga akhir tahun 2026 demi menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.
Bagi Anda di rentang usia produktif yang mobilitas sehari-harinya mengandalkan kendaraan pribadi, sinyal penurunan harga Pertamax ini tentu menjadi angin segar. Penyesuaian harga BBM non-subsidi berpotensi menurunkan biaya operasional harian, sehingga alokasi dana operasional bisa dialihkan ke pos kebutuhan lain seperti tabungan, investasi, maupun lifestyle.
Kepastian mengenai besaran dan jadwal resmi penurunan harga BBM non-subsidi ini akan diputuskan usai rapat koordinasi antara Kementerian ESDM dan para pelaku industri migas selesai digelar.