mobilinanews (Jakarta) - Tingginya angka kecelakaan lalu-lintas menyumbang angka kematian yang cukup tinggi di dunia. Di Indonesia sendiri tercatat fakta bahwa setiap hari ada 87 orang meninggal dunia akibat kecelakaan, atau bisa dibilang tiap jam, 3 nyawa melayang di jalan.
"Rata-rata kecelakaan yang terjadi di dominasi oleh faktor kelalaian manusianya. Kurangnya etika berkendara yang menjadikan angka kecelakaan lalu lintas itu tetap tinggi," jelas AIPTU Wahyu Martoni, Instruktur Operasional Denwal PJR Korlantas Polri di Jakarta, Jumat (7/8).
Etika berkendara merupakan sebuah tingkah laku penggguna jalan dalam melaksanakan Undang-Undang dan peraturan lalu lintas serta norma sopan santun antara sesama pemakai jalan.
Namun pada kenyataannya, kondisi lalu lintas di kota-kota besar seperti Jakarta saat ini diisi oleh pengguna jalan yang tidak tertib, belum mematuhi peraturan, takut melanggar apabila ada petugas, bahkan berkolusi dengan petugas.
"Bukan salah masyarakat bukan salah Polisi. Polisi tidak meminta, masyarakat memberi, masyarakat tidak memberi Polisi-nya yang meminta. Saya tidak ngomong kalau Polisi bersih, memang masih ada oknum Polisi seperti itu," tambah AIPTU Wahyu Martoni.
Dan hal yang paling disayangkan adalah tidak adanya efek jera. "Nanti kalau sudah kecelakaan baru mereka sadar."
Menurut AIPTU Wahyu, sebelum berkendara, harus memperhatikan 3 faktor penting mengemudi aman dan nyaman, mental mengemudi, kondisi kendaraan yang dipakai dan memperhatikan kondisi lingkungan/jalan.
"Kewajiban pengemudi adalah mengemudi dengan wajar, utamakan pejalan kaki, menunjukkan SIM dan STNK kendaraan, mematuhi aturan dan marka jalan, dan pakai helm bagi pemotor serta sabuk pengaman bagi pengemudi mobil," tutupnya.