mobilinanews (Bali) - Para pembalap senior yang gabung dalam Legend Riders seperti tak ada matinya dalam kegiatan turing. Meski hanya 6 orang, mereka geber motor masing-masing menyusuri Jogjakarta menuju Bali, 28 Oktober - 3 November 2024.
Mereka adalah Maruli Sibarani, yang tetap fit dan semangat meski sudah berusia 76 tahun, Irwan 'Gibet' Rachim, Dodo TS, Bari Doku, Hendri Rimet, Blipi Gede Aryanta, Agus Angsa dan Dedi Angsa.
Semua berangkat dengan KA ke Jogja pada 27 Oktober sementara motor sudah dikirim lebih dulu. Setelah semalaman kuliner tetapi kemudian bangun tepat waktu, rombongan start pada 28 Oktober dengan rute Pacitan, Tulungagung sembari piknik ke beberapa lokasi, antara lain Museum Ani-SBY. Tentu saja sembari jajan di rumah-rumah makan khas daerah seperti tradisi Legend Riders selama.
Esoknya restart dari Tulungagung menuju Bali. Tapi, ada peserta yang 'maksa' belok lebih dulu ke Blitar. Mampir ke makam proklamator Bung Karno, untuk keperluan pengakuan bersalah dan minta maaf.
Yang merasa perlu 'mengaku dosa' adalah Maruli Sibarani. Pasalnya, ia dan para pemuda lainnya turun ke jalanan pada tahun 1966, mendemo Presiden Soekarno untuk turun takhta.
"Saat itu kami terprovokasi oleh berita media. Belakangan kami sadar kalau Bung Karno bukan dalang di balik insiden pembunuhan para jenderal TNI pada 1965. Ketetapan MPR juga menegaskan Bung Karno tak bersalah," kata Sibarani yang kala itu masih berusia 18 tahun.
"Sejak keluar Tap MPR itu saya merasa sangat bersalah. Ternyata Bung Karno tidak seperti dituduhkan. Kini saya merasa sangat lega karena sudah minta maaf di kisaran beliau," imbuh Opung Sibarani yang tampak sangat khusuk saat ziarah ke makam presiden pertama RI itu.
Setelah menginap di Lumajang, rombongan lanjut turing ke Banyuwangi, menyeberang ke Pulau Bali dan menuju Denpasar lewat Buleleng dan Pantai Lovina.
"Mengantar Opung dengan misi khusus ke Blitar sangat mengesankan. Kami yang lebih muda semakin tahu bagaimana hebatnya patriotisme anak-anak muda di zamannya," komentar Irwan Rachim yang meski sudah masuk golongan The Old Man tetapi masih aktif di balap turing, reli, dan offroad.
Rombongan kecil itu, katanya, juga terkesan saat mengunjungi Tuksedo Studio, Bali, dan mengamati langsung pembuatan mobil-mobil klasik seperti MB300SL dan berbagai type kesohor lainnya.
"Ini karya anak bangsa yang harus diapresiasi. Terima kasih kepada Lilik Mardianto dan Puji Handoko yang sudah izinkan sekaligus mengedukasi kami seputar sejarah mobil-mobil klasik yang ternama, " tutup Irwan yang bersama rombongannya berencana balik ke Jakarta pada 3 November lewat udara.
Pastinya, setelah ini akan ada lagi turing Legend Riders yang sudah menanti. (rn)