mobilinanews (AS) - Lima race musim 2025 (3 sprint dan 2 grand prix) dilakoni Marc Marquez dengan sempurna. Mendulang poin maksimal, 86. Poin lanjutan menanti di main race GP AS pada Senin (31/3) dinihari nanti Waktu Indonesia Barat.
Menang mudah di 5 race sebelumnya, untuk balapan malam ini juga Marquez jadi favorit. Tapi, seperti biasa, ia tak terlena. Tetap menyiapkan diri dan motornya sampai pada detil terkecil. Ia percaya hanya dengan cara itu ia memahami batas kemampuan motornya dan bisa mengendalikan sesuai keinginannya.
Berulangkali ia mengatakan tujuannya saat berada di lintasan adalah menjadi juara dan di akhir musim menjadi juara dunia. Karena itu pula ia menargetkan kemenangan ke-6 beruntun malam ini.
"Saya sedang berada pada momen yang bagus (untuk mendulang poin). Itu harus dimanfaatkan. Karena tak mungkin saya selalu juara di setiap balapan."
"Akan tiba saatnya penampilan saya tidak sebagus saat ini. Itu bisa terjadi pada balapan nanti, pada GP Qatar atau seri lainnya," imbuh pemegang 6 gelar MotoGP saat bersama Honda itu kepada media GPone.
Karena itu Marquez harus menggunakan momen bagus saat ini untuk mengoleksi sebanyak-banyaknya poin sebagai bekal melakoni kompetisi yang masih sangat panjang.
"Jumat kemarin saya kecelakaan, kali pertama bersama Ducati. Saat awal balap sprint, saya nyaris kecelakaan lagi yang untungnya bisa dikontrol."
Bisa dipahami kalau prinsip itu adalah bagian dari strategi Marquez menjadi juara dunia tahun ini bersama Ducati. Selagi motornya terbaik dan ia merasa percaya diri di lintasan maka selama itu pula ia akan fight berburu poin sebanyak-banyaknya sampai pada kondisi poinnya sudah aman tenteram di jalur perburuan gelar.
Konsistensi. Itu yang ia butuhkan.
Dua contoh perburuan gelar di masa lalu patut jadi pelajaran penting buat Marquez.
Yang pertama saat Valentino Rossi kehilangan gelar pada 2026 saat ia bersama Yamaha dominan pada sejumlah seri balapan. Hanya saja, tidak konsisten. The Doctor tercatat 3 kali gagal mencapai finish, dan pada putaran terakhir di GP Valencia hanya finish P6.
Sebaliknya dengan Nicky Hayden (Honda). Rider Amrik itu hanya 2 kali memenangkan balapan, hanya sekali DNF tetapi konsisten meraih poin signifikan, termasuk podium di GP Valencia. Hasil akhirnya, Hayden menjadi juara dunia 2006 dengan total poin 252. Unggul hanya 5 poin dari Rossi yang gara-gara gagal meraih poin di Valencia hanya meraih total poin 247 di akhir musim.
Pelajaran kedua dari nasib Franco Morbidelli (Yamaha) dalam perburuan gelar 2020. Saat itu serial balapan hanya 14 putaran gara-gara Covid19. Ia naik podium 5 kali dengan tiga diantaranya sebagai juara. Tapi, ia juga retire alias out dari race sebanyak 3 kali dan di akhir musim hanya meraih total poin 158.
Lain halnya dengan Joan Mir, pembalap Suzuki yang sampai pertengahan musim tak masuk dalam kandidat pemburu gelar. Perolehan poinnya lebih konsisten dibandingkan Morbidelli meski juga alami 3 kali retire. Ia pun hanya sekali menjadi juara, tetapi mampu naik podium 7 kali. Ia pun dinobatkan sebagai juara dunia 2020 usai meraih total poin 171 atau surplus 13 angka atas Morbidelli.
Dua contoh itu layak jadi pelajaran penting buat Marquez. Mumpung lagi on fire di atas Ducati Desmosedici GP25, kesempatan mendulang poin harus dimainkan. Sekali saja pulang tanpa poin bisa membuat perubahan besar.
"Alex (Marquez) dan Pecco (Bagnaia) sejauh ini juga konsisten dan punya kecepatan sepadan. Saya tidak tahu kapan dan dimana, tapi selalu ada kesempatan mereka mengalahkan saya. Seperti saya katakan, tak.mungkin saya menjuarai semua seri balapan tahun ini," pungkasnya. (r)