Mobilinanews (Jepang) - Ketika dunia otomotif semakin terobsesi dengan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV), salah satu suara paling berpengaruh justru melontarkan pandangan berbeda. Akio Toyoda, Chairman Toyota Motor Corporation, kembali memantik perdebatan panas: menurutnya, mobil listrik tidak lebih ramah lingkungan dibanding kendaraan hybrid.
Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Dikutip dari Motor1.com pada Senin (16/6/2025), cucu pendiri Toyota ini menegaskan bahwa transisi total ke BEV tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Sebaliknya, ia menilai pendekatan multi-pathway—yang mencakup hybrid, plug-in hybrid, hingga hidrogen—merupakan solusi yang lebih realistis dan berkelanjutan.
Akio Toyoda menyampaikan bahwa peralihan sepenuhnya dari mobil berbahan bakar bensin (ICE) ke BEV bisa berdampak buruk, baik dari sisi industri maupun lingkungan. Ia menekankan bahwa:
“Jika kami memproduksi sembilan juta BEV di Jepang, itu justru akan meningkatkan emisi karbon. Ini karena Jepang masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga termal untuk memasok energi.”
Lebih lanjut, ia mengklaim bahwa 27 juta unit mobil hybrid Toyota yang telah terjual sejak 1997 menghasilkan jejak karbon setara dengan 9 juta BEV, apabila seluruh proses dari produksi baterai hingga operasional diperhitungkan.
Pernyataan ini diperkuat oleh studi yang dipublikasikan di jurnal Nature (2022). Studi tersebut menemukan bahwa:
Produksi BEV menghasilkan 11–14 ton CO₂
Sementara mobil ICE hanya sekitar 6–9 ton CO₂
Namun, perlu dicatat: selama masa pemakaian (lifetime), BEV memang lebih bersih, terutama jika listrik yang digunakan berasal dari sumber energi terbarukan. Masalah muncul ketika sumber listrik masih didominasi batu bara atau gas alam, seperti yang terjadi di Jepang dan beberapa negara berkembang lainnya.
Toyoda juga menyoroti sisi sosial dari transisi ke mobil listrik:
“Peralihan yang terlalu cepat dapat mengancam jutaan pekerjaan di seluruh rantai pasok otomotif global. BEV membutuhkan lebih sedikit komponen, yang berarti lebih sedikit pekerja.”
Dalam industri yang melibatkan jutaan pekerja mulai dari pemasok komponen, teknisi, hingga mekanik, lonjakan drastis ke teknologi baru tanpa persiapan menyeluruh bisa memicu gejolak ekonomi dan sosial yang besar.
Toyota, sebagai pionir teknologi hybrid melalui Prius, memang sejak awal tidak terlalu agresif masuk ke BEV penuh. Mereka lebih fokus mengembangkan hybrid dan plug-in hybrid yang dianggap lebih “seimbang” dari sisi lingkungan, efisiensi, dan kesiapan infrastruktur.
Pendekatan ini dikritik banyak pihak sebagai terlalu konservatif, terutama dibanding kompetitor seperti Tesla atau BYD yang gencar mengembangkan BEV. Namun, kenyataannya, mobil hybrid masih sangat diminati di pasar global, khususnya di negara-negara yang belum siap dengan infrastruktur pengisian cepat atau jaringan listrik yang bersih.