F1 2025: Liam Lawson Tak Lagi Bergairah Jadi Pendamping Max Verstappen di 2026. Kapok?

Selasa, 12/08/2025 14:44 WIB | Rulin purba
Liam Lawson (Racing Bulls), saatnya beri bukti di skuad lamanya. (Foto: ist)
Liam Lawson (Racing Bulls), saatnya beri bukti di skuad lamanya. (Foto: ist)

mobilinanews (Inggris) - Para pembalap junior maupun yang masih digodok di Akademi Balap Red Bull senantiasa berjuang keras agar bisa suatu waktu berdampingan dengan Max Verstappen. Beda dengan Liam Lawson.

Driver asal Selandia Baru itu masuk kandidat pendamping Verstappen musim 2026. Namanya disebut oleh Helmut Marko, Penasehat Senior Red Bull Racing yang menangani para pembalap muda tim Austria itu.

"Syaratnya, jangan berpikir untuk mengalahkan Verstappen," tegas pria Austria berusia 82 tahun itu.

Syarat Marko itu sepertinya menyindir Yuki Tsunoda saat dipromosikan menjadi pendamping Verstappen sejak GP Jepang, Maret silam. Driver Jepang ini sejak bocah sudah didukung penuh oleh Honda dan itu pula yang membuatnya mudah masuk skuad junior Red Bull, selain tentu saja talentanya. Kabarnya, Honda membayar 10 juta Euro agar Tsunoda bisa promosi dan menjadi local hero di GP Jepang. Dan, ia sesumbar bisa mengalahkan Verstappen yang akhirnya merusak dirinya sendiri.

Selain Lawson, Marko menyebut dua kandidat lain. Yakni Isack Hadjar (yang menggantikan Tsunoda di Racing Bulls saat promosi ke RBR lalu) dan Tsunoda sendiri.

Tapi, karena pisah dengan Honda di akhir musim ini, gelagatnya Tsunoda tak bakal dipakai lagi. Terlebih setelah jadi pendamping Verstappen performanya malah lebih payah dibandingkan di tim sebelumnya. Ia gagal meraih poin dalam 7 race terakhir. Ia hanya 3 kali finis di posisi 9 dan 10 dengan raihan hanya 4 poin.

Hadjar, yang menggantikan Lawson (promosi ke tim utama) sejak awal musim 2025 langsung bersinar dan menjadi pembalap junior Red Bull dengan perolehan poin sementara ini dengan koleksi 22 poin dan berada di peringkat 13 klasemen. Tsunoda ada di peringkat 18.

Kembali ke Lawson. Ia hanya mencicipi dua race di awal musim 2025 sebagai team mate Verstappen. Kedua balapannya gsgal total dan langsung dipecat tim jelang GP Jepang, digantikan Tsunoda.

Dipilulangkan ke Racing Bulls, Lawson malah mulai menggeliat. Dalam 7 race terakhir ia 4 kali finish di zona poin. Terabaik P6 di GP Austria dan tiga lainnya finish P8. Total poinnya hanya kalah 2 angka dari Hadjar dan berada di peringkat 15 klasemen.

Tanpa Tsunoda, praktis tinggal Hadjar dan Lawson pilihan terbaik ke kursi RBR 2026.

Pilihan yang tak mudah. Saat masih jadi Team Principal Racing Bulls, Laurent Mekies menolak keras jika pembalap barunya itu buru-buru ke tim utama.

"Saya ingin ia matang lebih dulu di tim ini sebelum promosi," tegasnya.

Kini Mekies sudah promosi ke tim utama menggantikan Christian Horner sebagai prinsipil tim.   Belum diketahui apakah ia masih pegang kata-katanya atau malah berubah ingin menarik Hadjar ke tim utama.

Di pihak lain, Lawson mengaku sama sekali tak memikirkan untuk kembali jadi pendamping Verstappen. Ia seperti kapok atau trauma atas kejadian sebelumnya, dipecat hanya dalam 2 penampilan awal.

"Sejujurnya saya sama sekali tak memikirkan hal itu. Saya ingin fokus dengan tim ini dan kami sudah bermain bagus dalam beberapa balapan," kata Lawson yang di GP Hungaria lalu finish P8, mengalahkan Verstappen yang P9.

Alan Permane yang kini jadi Team Principal Racing Bulls pun tengah menikmati kompetisi bersama kedua drivernya, Hadjar dan Lawson. Keduanya tengah bergemuruh di dalam persaingan tim papan tengah dan diprediksi bakal berlanjut ke paroh kedua musim 2025 yang akan dimulai dari GP Belanda akhir bukan ini.

Tapi, jika Marko dan Mekies meminta salah satu dari Hadjar atau Lawson, maka sulit buat Permane menolak. Mungkin juga buat Lawson meski sudah sadar-sesadarnya kalau mengemudikan mobil tim senior sangat sulit karena mobil itu dibangun sesuai karakter dan driving style Verstappen. (r)