mobilinanews (Inggris) - Petinggi tim McLaren sangat rajin mengumandangkan dan membanggakan kebijakan timnya dengan prinsip no team order. Tak ada pilih kasih antara Oscar Piastri dengan Lando Norris. Benarkah?
Sejak beberapa bulan lalu beberapa pihak meragukan hal itu. Termasuk mantan supremo F1 Bernie Ecclestone yang sudah berpengalaman dengan berbagai trik kompetisi di F1. Meski memimpin klasemen, Pastri (Australia) dianggap bukan pembalap yang akan diinginkan McLaren menjadi juara dunia sepanjang masih ada peluang matematika buat Norris (Inggris).
Prinsip sama berlaku seusai GP Belanda dimana Norris sudah tertinggal 34 poin dibandingkan Piastri. Team Principal McLaren Andrea Stella maupun CEO Zak Brown menyebut keduanya punya hak dan kesempatan sama merebut gelar dunia. Berlaku sampai salah satu diantaranya benar-benar tak lagi punya peluang.
Ceritanya lantas berubah drastis. Norris bermain cemerlang dan membalik situasi. Hanya dalam 6 race terakhir ia bisa membalik kekalahan 34 poin menjadi keunggulan 24 angka usai GP Brasil pekan lalu. Situasi yang membuat peluang Piastri menjadi juara dunia tampak berat karena hanya 3 seri balap terakhir tahun ini di Las Vegas, Qatar dan Abu Dhabi.
Benarkah semua itu karena Norris tampil spektakular sementara Piastri melempem?
Bisa jadi begitu. Tapi, tidak menurut Gunther Steiner , mantan direktur teknik Red Bull Racing dan eks peinsipil tim Haas. Memperkuat dugaan Ecclestone, Steiner melihat kian nyata dukungan tim buat Norris dengan menomorduakan Piastri.
Ia mencontohkan kasus terbaru di GP Brasil. Saat itu Norris menjadi juara sementara Piastri harus turun ke posisi finish ke-5 lantaran dihukum penalti 10 detik. Piastri menurut stewards menjadi penyebab insiden di lap ke-6 saat terjadi crash antara dirinya dengan pembalap Mercedes Andrea Kimi Antonelli. Piastri dituding menyenggol mobil Antonelli, kemudian mobil Antonelli membentur mobil Charles Lecerc (Ferrari). Akibatnya Lecrec terlempar ke gravel dan gagal melanjutkan lomba.
Poin yang dipermasalahkan Steiner seperti dikutip dari media planetf1 adalah kecenderungan McLaren ikut 'menyalahkan' Piastri dengan sama sekali tak ada upaya memprotes keputusan penalti itu. Padahal, Leclerc, sebagai korban satu-satunya dari insiden segitiga itu menilai kesalahan terbesar seharusnya diberikan kepada Antonelli. Bukan kepada Piastri.
"Kimi yang salah. Terlalu memaksakan diri pada celah yang tidak memungkinkan," kata Leclerc.
Steiner mempertanyakan ketiadaan niat petinggi tim untuk membela Piastri. Tak ada protes. Setidaknya ada perjuangan tim dan itu sudah membantu pembalap secara psikologis bahwa ia tak berjuang sendirian.
"Ajukan protes memang belum tentu menang. Tapi, setidaknya ada niat atau upaya tim untuk mengatakan sesuatu kepada stewards," imbuh Steiner yang menyebut hukuman 10 detik itu adalah mimpi buruk Piastri.
Ya, omongan Steiner tak salah. Stella menyikapi insiden Brasil itu memang terkesan menerima saja ketika Piastri dihukum.
"Soal penalti, saya rasa itu agak terlalu keras. Saya pikir tanggung jawab seharusnya ditanggung bersama dengan Kimi karena Kimi tahu Oscar ada di bagian dalam tikungan dan tabrakan itu mungkin bisa dihindari," komentar Stella saat itu.
Sayangnya, hal itu ia sampaikan kepada media. Bukan disampaikan kepada stewards seperti yang dipersoalkan Steiner.
Akhirnya Steiner pun menyebut ada 2 opsi untuk masa depan Piastri. Bertahan di McLaren jika ia benar-benar yakin bisa mengungguli rekan setimnya atau pergi mencari tim lain yang bisa memberinya peluang meraih gelar.
"Dengan semua yang sudah ia perlihatkan saya yakin tim yang punya mobil bagus akan senang menariknya."
Sebelumnya di GP Singapura juga ada insiden yang dianggap menguntungkan Norris. Norris yang start di belakang Piastri justru menyalip rekan serimnya itu di tikungan dengan cara mendorong sang teman ke tembok lintasan. Keduanya bisa meneruskan balapan, tapi McLaren tak menyuruh Norris untuk mengembalikan posisi seperti diminta Piastri.
Tinggal 3 sisa balapan. Meski sulit, Max Verstappen (Red Bull) tetap punya peluang meraih gelar. Jika kedua joki McLaren masih bermain keras satu sama lain maka yang patut dikhawatirkan adalah crash yang membuat keduanya DNF. Itu artinya memberi jalan lebih mudah buat Verstappen untuk meraih gelar F1 kelima kalinya. (r)