mobilinanews (Monaco) - Charles Leclerc satu-satunya pembalap tuan rumah Monaco pada race weekend GP Monaco pekan ini. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah ia mampu membawa Ferrari jadi juara seperti tahun lalu?
Monaco adalah negeri Leclerc. Monte Carlo adalah kota domisilinya. Lintasan GP Monaco adalah jalan raya Monte Carlo yang sehari-hari ia lewati. Ia, dari 22 pembalap di grid F1, paling hapal sudut-sudut lintasan GP Monaco.
Tapi, semua itu tak menjaminyya jadi juara. Dari enam penampilan di GP Monaco, baru tahun lalu ia meraih gelar juara. Meraih trofi yang langsung diberikan keluarga kerajaan Monaco.
"Jawabannya lihat besok (Jumat 23/5)," kata Leclerc di paddock GP Monaco, Kamis (22/5) merujuk pada dua sesi latihan bebas pada Jumat.
Pada dua ses itulah ia akan paham kekurangan dan kelebihan Ferrari SF25 yang ia andalkan untuk balapan. Dari situ barulah ia dan timnya coba tentukan set-up mobil untuk kualifikasi dan raceday.
Pada musim ini Ferrari belum sekali pun juara dalam 7 gelaran awal. Prestasi tertinggi adalah podium 3 di GP Arab Saudi.
Secara umum kecepatan SF25 masih kalah dibandingkan RB21 milik Red Bull Racing dan MCL39 milik tim McLaren. Tapi, Leclerc paham kalau kecepatan tinggi di trek Monaco bukan satu-satunya prioritas. Karena lintasan balapnya berliku, sempit dan nyaris mustahil untuk salip-salipan.
Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara kecepatan tinggi di beberapa area dan kecepatan rendah yang menjadi rata-rata di sepanjang lintasan. Mobil yang kelewat kencang justru riskan bahaya karena semua sisi lintasan langsung berhadapan dengan plang besi pembatas.
"Kunci paling utama pada Sabtu (sesi kualifikasi). Hasilnya akan sangat menentukan hasil pada Minggu (raceday). Karena itu fokus kami terlebih dulu adalah kualifikasi. Semoga saja kami bisa bikin kejutan meskipun secara alami mobil kami tidak cocok untuk kecepatan rendah," tandasnya.
Sebelumnya Team Principal Ferrari menyebutkan kualifikasi adalah kelemahan yang awal musim ini menjadi kekurangan SF25.
Karena pentingnya starting grid di trek macam Monaco maka fokus para teknisi adalah menemukan setingan terbaik untuk tiga tahap kualifikasi - Q1, 2 dan 3. Setelah itu baru berpikir set up dan strategi ban dan momen terbaik untuk pitstop saat raceday.
Dari semua proses itu, Lecrec bakal paling menyita perhatian. Tak lain karena ia local hero dan lebih 'akrab' dengan karakter sirkuit dibandingkan pembalap lainnya. (r)