Mobilinanews (Jakarta) - Pembalap mua, Victor Martins secara resmi dikonfirmasi akan mengemban peran menjadi ujung tombak pengembangan teknologi di balik layar, termasuk menjadi pembalap cadangan untuk tim Williams Racing di Formula 1 (F1) musim 2026.
Menariknya, pembalap berbakat asal Prancis tersebut tak hanya sekedar menjadi pembalap penguji untuk tim Williams di F1, melainkan akan bertarung di lintasan aspal FIA World Endurance Championship (WEC) bersama raksasa Prancis, Alpine di musim yang sama.
Langkah ini menandai evolusi penting bagi Martins, yang kini berusia 24 tahun. Setelah bergabung dengan Williams Driver Academy pada awal 2025, ia telah membuktikan dirinya sebagai aset berharga bagi tim Williams.
Dengan gelar juara Formula Renault Eurocup 2020 dan mahkota FIA Formula 3 2022 di kantongnya, Martins melanjutkan tren positifnya sebagai rookie terbaik di Formula 2 2023, hingga puncaknya meraih kemenangan gemilang dalam Feature Race 2025 di Qatar.
Di Williams, Martins tidak sekadar menjadi pembalap cadangan. Ia akan bergabung dengan Oliver Turvey dan Harrison Scott dalam tim elit Test and Development Driver untuk menyempurnakan simulator driver-in-loop (DIL) Williams yang baru beroperasi di akhir 2025.

Di tengah perubahan regulasi teknis F1 yang radikal pada 2026, masukan Martins dari balik kemudi virtual dinilai akan menjadi kunci bagi pembalap utama Alex Albon dan Carlos Sainz dalam memacu performa jet darat mereka di lintasan nyata.
Sven Smeets, Direktur Olahraga Williams, menegaskan bahwa pemilihan Martins didasarkan pada kontribusi nyatanya selama setahun terakhir. Menurutnya, Martins bukan hanya cepat, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi teknis yang luar biasa.
Pengalamannya mengemudikan FW47 dalam sesi latihan bebas (FP1) di Barcelona serta keterlibatannya dalam program pengujian mobil lama (TPC) memberikan konteks dunia nyata yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan mobil masa depan, FW48.
“Victor (Martins) adalah pembalap berbakat yang secara konsisten telah memberikan panduan serta masukan yang sangat berharga bagi tim, meningkatkan performa kami di lintasan, dan mendukung Alex serta Carlos sepanjang musim 2025,” jelasnya.
“Pengalaman mengendarai FW47 di sesi FP1 Barcelona serta keterlibatannya dalam mendukung program TPC memberinya konteks nyata yang diperlukan untuk memberi dampak nyata pada pengembangan FW48 dan mobil di masa depan,” tambah Smeets.
Bagi Martins, peran ini adalah sebuah kehormatan sekaligus tantangan besar. Ia menyatakan antusiasmenya untuk membantu mengembalikan Williams ke barisan depan grid F1, sebuah proyek yang ia anggap ikonik.

Namun, gairah kompetisinya tidak akan padam di ruang simulasi saja. Kesepakatannya dengan Alpine di WEC akan menjaga insting balapnya tetap tajam, memungkinkannya bersaing di level tertinggi sambil tetap menjaga satu kakinya di ambang pintu F1.
Kepercayaan yang diberikan oleh James Vowles dan jajaran pimpinan Williams menunjukkan betapa seriusnya tim ini dalam mengintegrasikan talenta muda ke dalam struktur teknis mereka.
"Williams adalah tim ikonik dengan sejarah yang luar biasa dan saya sangat antusias menjadi bagian dari proyek untuk membawa tim ini kembali ke barisan depan grid," ujar Victor Martins mengutip siaran resmi F1, Selasa (13/1/2026).
“Saya sudah memiliki pengalaman bekerja bersama Alex dan Carlos selama akhir pekan balap, dan saya sangat menantikan untuk melanjutkan kerjasama ini dengan tim pada musim 2026,” sambungnya.
Dengan tanggung jawab tambahan untuk mengembangkan simulator khusus bagi para junior di Williams Academy, Victor Martins kini berdiri sebagai jembatan antara masa lalu kejayaan Williams dan masa depan teknologi balap modern yang sedang mereka bangun.