GR Corolla RC2 Hadir, Simak Rekam Jejak Toyota Corolla Sebagai `Monster` Reli Sejati

Selasa, 23/12/2025 11:32 WIB | bagas
Toyota Corolla WRC (Foto: Toyota)
Toyota Corolla WRC (Foto: Toyota)

Mobilinanews (Jakarta) - Bagi pecinta reli, nama Toyota Corolla tentunya bukan lagi sekadar mobil keluarga melainkan sebuah ‘predator’ yang pernah merajai berbagai lintasan reli dunia, termasuk di Indonesia.

Kini, di ambang tahun 2026, Toyota mengumumkan kembalinya sang ikon ke kancah reli melalui GR Corolla RC2 yang akan bertarung di American Rally Association (ARA), menandai babak baru sejarah panjang yang telah berlangsung selama lebih dari 5 dekade.

Kisah Corolla di dunia reli dimulai sejak awal 1970-an, tepatnya saat Corolla Levin TE27 mulai menantang dominasi pabrikan Eropa. Model ini mengandalkan mesin 2T-G berkapasitas 1.588 cc, DOHC yang menghasilkan tenaga sekitar 150 HP pada masanya.

Bobotnya yang sangat ringan, hanya sekitar 850 kg, menjadikannya sangat lincah di lintasan teknis. Kesuksesan ini diteruskan oleh seri Corolla TE25 yang berhasil mencatatkan kemenangan pertama Toyota di ajang WRC pada Press-on-Regardless Rally tahun 1973.

Memasuki era 1980-an, dunia mengenal Corolla Levin AE86 yang legendaris. Meski lebih dikenal sebagai ikon drifting, di lintasan reli, AE86 adalah pilihan tangguh di kelas Grup A. Mobil ini dibekali mesin 4A-GE 1.6 liter yang menghasilkan 125 hingga 150 HP. 

Kekuatannya terletak pada keseimbangan distribusi bobot dan sistem penggerak roda belakang yang responsif, menjadikannya favorit para pereli swasta sebelum era penggerak empat roda (AWD) menjadi standar wajib.

Berbicara mengenai eksistensi Corolla di kancah reli tidak akan lengkap tanpa menyinggung Toyota Corolla DX (KE70) yang dicintai karena konstruksi penggerak roda belakang (RWD) yang tangguh dan sasis yang sangat mudah dimodifikasi sesuai kebutuhan kompetisi.

Bahkan, di Indonesia pun mobil ini bukan sekadar kendaraan retro, melainkan tulang punggung bagi para pereli di ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Reli dan Sprint Rally sejak era 1980-an hingga detik ini.

Dalam spesifikasi standar kompetisi lokal, Corolla DX awalnya banyak mengandalkan mesin 4K berkapasitas 1.300 cc yang dikenal "bandel". Namun, untuk naik ke kelas yang lebih bergengsi, para pereli Indonesia kerap melakukan engine swap ke mesin 2T-G atau 18R-G.

Kini, di ajang Kejurnas modern, banyak Corolla DX yang masih bertaji dengan jantung mekanis 4A-GE 1.6 liter 20-valve "Blacktop" atau bahkan mesin modern seperti 3S-GE BEAMS dan mesin turbo SR20.

Dengan berat kosong yang hanya berkisar 870 kg hingga 950 kg setelah diperkuat roll cage, Corolla DX menawarkan rasio tenaga-terhadap-berat yang kompetitif, menjadikannya "monster" yang lincah di berbagai lintasan reli di Indonesia, baik tarmac maupun gravel.

Transisi menuju penggerak empat roda membawa Toyota ke era keemasan dengan lahirnya Corolla WRC pada tahun 1997, berbasis sasis AE111. Mobil ini adalah mahakarya teknik yang dirancang khusus untuk menggantikan Celica ST205.

Di bawah kapnya tertanam mesin legendaris 3S-GTE berkapasitas 2.0 liter dengan induksi turbocharger dan intercooler. Mesin ini sanggup memuntahkan tenaga hingga 299 HP pada 5.700 rpm dan torsi 510 Nm dengan transmisi sekuensial 6-percepatan.

Keunggulan mobil ini adalah dimensi yang lebih ringkas dan wheelbase yang lebih pendek dibandingkan pendahulunya, memberikan kelincahan luar biasa di lintasan sempit. Mobil inilah yang membawa Toyota meraih gelar juara dunia konstruktor pada tahun 1999.

Setelah hiatus panjang dari kategori utama reli, Toyota Gazoo Racing (TGR) akhirnya membawa nama Corolla kembali ke habitat aslinya. Untuk musim balap 2026 di Amerika Serikat, Toyota memperkenalkan GR Corolla RC2.

Mobil ini dikembangkan dengan mengambil basis dari GR Corolla produksi massal namun mendapatkan sentuhan spesifikasi kompetisi kelas RC2 yang setara dengan kategori Rally2 di tingkat global, sebut saja di FIA World Rally Championship (WRC).

Jantung mekanisnya menggunakan mesin G16E-GTS 1.6 liter 3-silinder turbocharged yang telah dioptimalkan untuk kebutuhan balap ketahanan. Dalam konfigurasi standar kompetisi, mesin ini menghasilkan tenaga sekitar 300 tenaga kuda dan torsi 400 Nm.

Tenaga tersebut disalurkan melalui sistem penggerak GR-FOUR AWD yang telah dimodifikasi yang diklaim memungkinkan distribusi torsi yang sangat fleksibel antara roda depan dan belakang.

Perbedaan mencolok pada model 2026 ini terletak pada penggunaan suspensi khusus reli yang memiliki travel lebih panjang serta bodi yang diperkuat dengan roll cage standar FIA dan panel aerodinamis untuk pendinginan mesin maksimal di suhu ekstrem Amerika Utara.