mobilinanews (Jakarta) - Di era mobil listrik (EV), kendaraan bukan lagi sekadar alat transportasi—tapi bisa jadi sumber penghasilan pasif.
Berkat teknologi Vehicle-to-Grid (V2G) yang makin matang, kini pemilik EV bisa menyalurkan listrik dari baterai mobil ke jaringan listrik dan mendapatkan imbalan uang tunai.
Bisa dibilang, EV kini bukan hanya kendaraan, tapi juga aset finansial aktif.
Singkatnya, V2G adalah teknologi yang memungkinkan mobil listrik menjadi “bank daya berjalan”. Saat permintaan listrik sedang tinggi—biasanya pada jam-jam sibuk—mobil kamu bisa menyalurkan daya kembali ke jaringan listrik.
Sebagai imbalannya, kamu bisa mendapatkan kompensasi uang dari selisih harga listrik antara jam sepi dan jam sibuk.
Bukan cuma hemat biaya, tapi juga bantu menjaga stabilitas jaringan listrik nasional. Solusi win-win.
Dalam proyek percontohan V2G yang dilakukan di Shanghai, Xia Yu, seorang insinyur otomotif dan pemilik mobil listrik Nio, telah menyalurkan total 15.610 kWh daya ke jaringan listrik sejak 2022.
Hasilnya? Ia memperoleh sekitar Rp 1,3 juta per bulan, cukup untuk menutup sebagian besar biaya operasional mobilnya.
Ia mengisi daya mobilnya di rumah pada malam hari saat tarif rendah, dan melepaskan energi itu di kantor saat tarif tinggi.
Strategi sederhana tapi efektif.
Pemilik EV Wang Wenjun, misalnya, telah meningkatkan charger rumahnya dengan meteran listrik dua arah.
Pada 14 Mei 2025, ia menjadi pengguna pertama yang menyambungkan mobil ke jaringan menggunakan sistem ini dan menyalurkan daya sebesar 0,43 kWh dalam uji coba.
Nio juga memperluas layanan melalui Battery-as-a-Service (BaaS) dan stasiun pertukaran baterai dua arah. Di sana, pengguna bisa dengan mudah menukar baterai dan mendapatkan poin hadiah saat ikut menyalurkan energi ke jaringan.
Dengan skema sewa baterai dan garansi seumur hidup, pengguna tak perlu pusing soal umur baterai—cukup pakai, cuan, dan tukar.
Ini kekhawatiran umum. Tapi menurut para ahli, ada solusi:
Baterai modern sudah sangat tahan lama.
Baterai litium besi fosfat bisa mencapai 3.500 siklus lebih, artinya bisa bertahan hingga belasan tahun jika dikelola dengan baik.
Waktu ganti mobil makin cepat.
Seperti disampaikan Wang Wenjun, sekarang orang ganti mobil rata-rata setiap 3–4 tahun, mirip seperti ganti smartphone. Jadi, isu degradasi baterai jadi relatif kurang relevan.
BaaS menghilangkan beban kepemilikan baterai.
Dengan menyewa baterai, pengguna tak perlu takut turun performa. Semua diurus oleh penyedia layanan.
Pemahaman publik perlu ditingkatkan.
Xia Yu mengakui bahwa banyak orang, terutama generasi lebih tua, belum paham manfaat V2G. Padahal, jika dimanfaatkan dengan bijak, ini bisa jadi sumber pendapatan baru yang stabil.