mobilinanews (Jakarta) – Pernah merasa pusing mendadak atau mual yang mengganggu saat pertama kali mencoba naik mobil listrik (EV)? Kamu tidak sendirian. Fenomena ini sering disebut sebagai bagian dari motion sickness versi modern. Meski mobil listrik dikenal lebih canggih, senyap, dan ramah lingkungan, bagi sebagian orang, transisi dari mesin bensin ke motor listrik bisa memberikan "kejutan" pada saraf keseimbangan.
Ternyata, penyebabnya bukan karena ada kerusakan pada mobil, melainkan cara otak kita memproses informasi yang berubah total. Yuk, bedah penyebabnya agar perjalananmu tetap nyaman!
Pada mobil konvensional (ICE), tubuh kita sudah terbiasa dengan "sinyal" tertentu: suara mesin yang menderu saat digas dan getaran halus dari pembakaran bensin. Sinyal-sinyal ini membantu otak memprediksi bahwa kendaraan akan bergerak.
Di mobil listrik, sinyal itu hilang. Kabin yang terlalu senyap justru membuat otak kesulitan menyinkronkan apa yang dilihat mata dengan apa yang dirasakan oleh telinga bagian dalam (pusat keseimbangan). Ketidaksiapan otak dalam merespons gerakan yang tiba-tiba tanpa suara inilah yang memicu rasa pusing dan mual.
Selain faktor keheningan, ada beberapa alasan teknis yang memengaruhi fisik kita:
Akselerasi Instan: Berbeda dengan mobil biasa yang butuh waktu untuk mengoper gigi, mobil listrik punya torsi instan. Sentakan mendadak saat pedal gas diinjak bisa membuat penumpang merasa terayun ke belakang secara drastis.
Regenerative Braking (Rem Regeneratif): Mobil listrik memiliki fitur di mana mobil akan mengerem secara otomatis saat pedal gas dilepas untuk mengisi ulang baterai. Efek "tarik-ulur" yang terjadi terus-menerus ini sering kali bikin perut terasa tidak nyaman.
Kurangnya Getaran: Minimnya getaran membuat tubuh kehilangan orientasi gerak. Bagi penumpang yang tidak memegang kendali setir, ketidakmampuan memprediksi kapan mobil akan berhenti atau melaju membuat risiko mabuk perjalanan meningkat pesat.
Jangan biarkan rasa mual menghalangi niatmu beralih ke gaya hidup hijau. Berikut beberapa cara cerdas untuk mengatasinya:
Duduk di Kursi Depan: Memandang cakrawala atau jalan di depan membantu otak menyelaraskan visual dengan gerakan fisik yang dirasakan.
Simpan Gadget-mu: Membaca buku atau bermain HP saat di dalam EV adalah resep instan menuju mual. Fokuslah pada pemandangan di luar.
Atur Mode Berkendara: Jika kamu yang menyetir, gunakan mode pengereman regeneratif yang paling rendah (low) agar transisi perlambatan terasa lebih halus seperti mobil biasa.
Ciptakan "Suara" Buatan: Jika kabin terasa terlalu sunyi, menyalakan musik atau sedikit membuka jendela bisa memberikan stimulus audio yang membantu otak tetap fokus.
Istirahat Berkala: Jika perjalanan jauh, jangan ragu untuk berhenti sejenak demi menghirup udara segar dan menetralkan kembali saraf keseimbanganmu.