mobilinanews (Jakarta) – Menempatkan anak kecil di balik dasbor motor sangat berbahaya. Karena jika terjadi benturan anak bisa mengalami cedera fatal. Hal ini banyak diabaikan oleh orang dewasa, yang tidak memahami keselamatan berkendara.
Tak jarang kita melihat anak-anak ditempatkan di bagian depan, baik saat mudik atau saat bepergian dalam keseharian. Padahal mereka bukan airbag. Sedikit kesalahan pada premotor bisa membuat mereka terbentur.
Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani mengingatkan orang tua agar anak yang dibonceng bisa ditempatkan di belakang pemotor, sejauh kakinya sudah bisa menyentuh footstep motor.
“Kalau yang bawa anak kecil, boleh-boleh saja. Memang nggak ada larangan, karena pemerintah nggak ngelarang. Cuman, harusnya sebagai orang tua mikir, kira-kira anak yang dia belum bisa injak footstep itu aman atau tidak. Jadi mereka itu, belum bisa didudukin secara mandiri, dan kalau terjadi apa-apa bisa fatal,” kata Agus Sani (26/3).
Untuk itu, ia menyarankan agar anak di bawah usia 5 tahun tidak dipaksakan naik motor. Apalagi untuk perjalanan jauh seperti mudik.
“Jadi anak di bawah 5 tahun yang paling fatal, kalau terjadi apa-apa saat bermotor. Dia yang belum bisa injak footstep, belum bisa didudukin secara mandiri, itu kan yang paling fatal. Itu sebaiknya jangan naik motor,” paparnya.
Alternatifnya, kalau orang tuanya tidak bisa beli tiket sendiri, mereka bisa ikut mudik gratis yang dilaksanakan instansi-instansi atau korporasi. Misalnya dari Honda, atau dari pemerintah, seperti kementerian Perhubungan dll.
Agus Sani mengakui bahwa sebenarnya membawa anak dalam perjalanan jauh itu bisa-bisa saja. Tapi pastinya tidak aman. Namun kadang masyarakat lebih mementingka efisiensi perjalanan secara biaya, ketimbang keselamatan.
“Yang paling pentingkan dalam berkendara itu, sebetulnya kan aman. Bukan masalah efisien. Karena itu, orang tua harus bijak,” tuturnya.
Ia kembali menegaskan bahwa masalah keamanan bukan sesuatu yang bisa dikompromikan.
“Kalau anak itu sebenarnya nggak aman ditaruh di depan ya. Karena anak bisa jadi terkena benturan kepalanya di bagian dasbor motor, saat pengereman mendadak. Atau handling pengendaranya nggak nyaman karena ada anak di depan,” ujarnya.
Ia memberikan pemahaman bahwa sebenarnya posisi pembonceng paling benar untuk anak itu ditempatkan di belakang penumpang.
“Jadi di depan itu harusnya kosong, nggak ada barang, nggak ada anak. Karena ketika melakukan perjalanan jauh, kalau ada barang misalnya kaki dia nggak bisa bergerak dengan nyaman yang terjadi bisa keram. Karena kakinya posisinya begitu aja. Dan itu berbahaya untuk pemotor,” tukasnya.