Bahaya Pengemudi Remaja

Minggu, 08/02/2015 05:25 WIB
redaksi


mobilinanews.com (Jakarta) - Kecelakaan lalu lintas yang memakan banyak korban jiwa akibat kelalaian pengemudi remaja sudah acap kali diulas. Masih segar di ingatan, kecelakaan putra bungsu politisi Hatta Rajasa di tol Jagorawi bulan Desember 2012, dua orang tewas termasuk satu orang balita.

September 2013 , putra bungsu musisi Ahmad Dhani juga terlibat kecelakaan di tol Jagorawi, tujuh orang tewas. 20 Januari 2015, kasus kecelakaan lalu lintas yang mengenaskan Christopher Daniel Sjarief (23 tahun) di Pondok Indah, empat orang tewas.

Kejadian ini tidak luput dari perhatian pakar keselamatan berlalu lintas Jusri Pulubuhu, Training Director dari Jakarta Defensive Driving Consulting.

Menurutnya, seorang remaja hanya butuh kurang dari dua jam untuk belajar dan bisa mengarahkan kemudi mobil ke arah yang diinginkan. Meski demikian ini tidak serta merta cukup untuk mendapatkan SIM dan mengemudi di jalan raya.

Jusri menuturkan, mengemudi  bukan hanya terkait teknik dan kemampuan mengendalikan. Dibutuhkan bertanggungjawab untuk mementingkan keamanan diri sendiri dan nyawa pengguna jalan lain. Persoalan inilah yang tidak mudah dicapai seorang remaja, karena kontrol emosinya belum matang dan stabil. Umumnya, remaja mengemudi karena dasar kesenangan dan keasyikan sesaat, tidak memperhitungkan resiko. Dengan kata lain, memiliki kemampuan terbatas untuk melihat, menganalisis dan menyimpulkan kondisi lalu lintas.

Baca juga Bentuk Kelalaian Pengemudi Remaja

 

Tag

Terpopuler

Terkini